Cherreads

Chapter 1 - Prolog: Sealing of the Accused King

Sebelum ada kata, sebelum ada hukum, sebelum Segalanya yang dikenal diciptakan, ada satu entitas yang menjadi akar dari segala sesuatu, yang disebut The Beginning One — segala sesuatu berasal darinya.

dalam waktu yang tak terhitung kemudian terlahirlah Celcilius Versedigoad, sang Raja Semesta, sang Pencipta, dan Merupakan Manifestasi Dari The Beginning One. Namun, di balik takdir yang abadi, di balik tatanan yang sempurna, ada satu kata yang terlupakan: keinginan.

Seratus ribu tahun yang lalu, dunia bersaksi pada kehancuran yang tak bisa dimaafkan. Para pahlawan yang terlahir dari keberanian dan harapan, yang ditempa oleh waktu dan peperangan, berkumpul di hadapan Celcilius Versedigoad. Mereka melihatnya bukan sebagai dewa, bukan sebagai pencipta yang mereka kenal. Mereka hanya melihatnya sebagai ancaman, sebagai makhluk yang tak bisa dipahami, yang memiliki kekuatan tak terukur, yang bahkan bisa merobek tatanan alam itu sendiri. Dalam mata mereka, Celcilius bukanlah pencipta yang menuntun, tetapi pembawa malapetaka yang harus dihentikan.

"Kau telah menjadi ancaman bagi segala yang ada." Suara salah satu pahlawan itu bergema, keras dan tegas, saat mereka menyatukan kekuatan mereka untuk menaklukkan sang Raja Semesta.

Raja Semesta Merupakan Nama Yang Orang-orang Berikan Kepada Celcilius Versedigoad Karena Mereka Tidak Menganggap Dirinya Sebagai Sang Pencipta, Hanya Menganggapnya Sebagai Penakluk Semesta, Maka dari Itu Dia Dijuluki Raja Semesta.

Namun, Celcilius hanya tersenyum. Senyum itu bukan senyum seorang raja yang ingin menundukkan dunia, tapi senyum yang lebih dalam, lebih penuh makna, seolah dia tahu bahwa segala sesuatu yang ada di hadapannya hanyalah bagian dari takdir yang lebih besar, yang bahkan pahlawan-pahlawan itu tak bisa pahami.

"Lelah sekali..." Dia berbisik, suaranya terdengar lembut, namun penuh kedalaman. "Aku akan kembali."

Bagi Celcilius, itu bukan sebuah ancaman, tetapi sebuah janji. Sebuah janji bahwa perjalanan ini bukanlah yang terakhir, bahwa sejarah akan mengulang, dan semesta akan berputar kembali. Namun di mata pahlawan-pahlawan yang berdiri di hadapannya, kalimat itu adalah kalimat penuh kebencian. Mereka mendengar bukan janji, tetapi pernyataan kemenangan. Mereka mendengar "Ahahaha, Aku akan kembali untuk menghancurkan segalanya, Segalanya, Ahahaha."

Mereka memutuskan untuk menutup takdir itu, menutup perjalanan itu dengan sebuah artefak yang legendaris: Anti-Celcilius. Sebuah segel yang diciptakan khusus untuk menghentikan keberadaannya. Maka, di bawah langit yang penuh petir dan gemuruh, Celcilius Versedigoad disegel. Dunia menyaksikan saat sang Raja Semesta ditarik ke dalam kekosongan abadi, saat dirinya yang tak terbatas dipaksa untuk terkurung dalam kesendirian yang tak terbayangkan.

Namun, waktu itu tidak sama bagi mereka yang tinggal di Hutan Keistimewaan. Hutan yang dijaga dengan penuh keheningan oleh makhluk-makhluk yang tak terlihat oleh dunia luar. Mereka, yang hanya tahu ketenangan, yang tahu kebijaksanaan alam, menyaksikan kehancuran dunia luar dengan penuh kesedihan. Mereka yang tahu siapa Celcilius, mereka yang menyembahnya, mereka yang melihatnya bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pembimbing yang melindungi mereka dalam keseimbangan sempurna. Bagi mereka, kehilangan Celcilius adalah kehilangan segalanya.

Namun, dunia luar terus berputar, dan dengan berjalannya waktu, mereka yang pernah bertindak sebagai pahlawan kini menjadi legenda. Namun, mereka tak pernah tahu bahwa segel yang mengurung Celcilius bukanlah penjara yang abadi. Seperti halnya semua yang terlahir, tak ada yang bisa terkurung selamanya. Dalam kesunyian yang panjang, di ketiadaan yang tak terbayangkan, sesuatu mulai bergerak, sesuatu yang tak bisa dihindari, yang tak bisa dihentikan.

Seratus ribu tahun berlalu, waktu yang begitu panjang bagi dunia luar, namun hanya seratus hari bagi mereka yang tinggal di Hutan Keistimewaan. Bagi mereka, waktu tidak bergerak dalam linearitas yang sama. Bagi mereka, seratus ribu tahun itu hanya sebuah desah angin yang berlalu, tak lebih dari sekedar kebisingan alam yang tak penting.

Di tengah ketenangan yang abadi, saat makhluk-makhluk yang hidup di hutan mulai melupakan siapa yang telah menyelamatkan mereka, saat dendam terhadap dunia luar mulai menggerogoti jiwa mereka, Celcilius Versedigoad, sang Raja Semesta, yang dulu disegel oleh artefak legendaris, akhirnya bangkit kembali.

Dia muncul, bukan dengan amarah, tetapi dengan keheningan yang dalam. Wujudnya kini berbeda, tak lagi seperti dulu, tak lagi seperti yang dikenali oleh dunia luar. Dia tidak lagi terlihat seperti seorang raja, tidak lagi terlihat seperti seorang dewa. Celcilius kini adalah seorang pria biasa, dengan rambut putih keperakan yang terurai dan mata yang penuh rahasia. Nama yang dikenakan pun bukan lagi Celcilius Versedigoad, tetapi Ceilryfan Veirzalin, sebuah nama baru untuk sebuah perjalanan baru yang akan dimulai.

Namun, tak ada yang tahu bahwa Celcilius sudah bebas. Tak ada yang tahu bahwa dia sudah kembali ke dunia yang dulu pernah dia jaga. Tak ada yang tahu bahwa hutan yang dulu menjadi tempat yang penuh kedamaian kini sudah berubah menjadi medan pertempuran yang mengerikan. Hutan Keistimewaan kini bukan lagi tempat perlindungan, melainkan tempat di mana dendam dan amarah tumbuh subur. Makhluk-makhluk yang dulu dipenuhi kebijaksanaan kini menganggap dunia luar sebagai musuh yang harus dihancurkan, karena mereka yang di luar sana berani menyegel sang Raja Semesta.

Di balik semuanya, Celcilius hanya bisa tersenyum, namun senyuman itu tidak lagi penuh kedamaian. Kini, senyum itu dipenuhi dengan pertanyaan: Apa yang akan terjadi pada dunia ini? Apa yang akan aku lakukan setelah kembali?

Dengan langkah yang tenang, dia menuju ke hutan yang penuh rahasia ini. Sebuah hutan yang melindungi mereka yang tak berbahaya, yang selama ini menghormatinya, namun kini—mereka, yang menyembahnya, akan menjadi kekuatan yang menentang dunia luar. Dan dalam diam, Celcilius bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini memang takdir yang harus kuterima?

Maka perjalanan baru pun dimulai. Dunia luar tidak akan pernah tahu apa yang akan datang. Keberadaannya akan menjadi kisah yang terukir dalam waktu, dan sejarah akan menilai, apakah ini adalah kebangkitan yang akan membawa keadilan, atau kebangkitan yang hanya akan membawa kehancuran.

More Chapters