Ari memandang langit yang kelabu, awan mendung menggantung rendah seakan-akan siap untuk menangis. Gerimis perlahan turun, menambah kesepian yang sudah lama mengisi hati Ari. Setelah seharian bekerja di kantor, berjalan kaki pulang menjadi cara terbaik bagi Ari untuk melepaskan penat. Tidak ada yang lebih menenangkan baginya selain suara tetesan hujan yang jatuh di tanah, mengalun dalam harmoni yang familiar.
Jalanan yang basah itu sepi, hanya ada sesekali kendaraan yang lewat, tetapi tak ada orang lain yang tampak. Tidak ada orang yang berani keluar saat hujan turun begitu deras. Hanya ada dia dan kerikil-kerikil kecil yang terdengar di bawah langkah kakinya. Ari tidak terganggu. Ia menikmati sepinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam langkahnya yang lambat.
Hari-hari seperti ini selalu membuatnya merenung. Hidupnya terasa monoton—pekerjaan yang tak pernah berakhir, rumah yang selalu terasa kosong, dan dunia yang seakan mengalir tanpa ada perubahan berarti. Di bawah hujan ini, ia merasa seperti terperangkap dalam ruang dan waktu yang tak bergerak.
Tiba-tiba, pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang bergerak di tepi jalan. Di tengah hujan gerimis yang makin deras, sebuah sosok kecil tergeletak di trotoar, tampaknya kesakitan. Ari terkejut, memperlambat langkahnya. Ia menoleh lebih dekat dan melihat seekor kucing kecil yang tampaknya terluka. Kucing itu tergeletak begitu lemah, matanya yang besar penuh dengan ketakutan.
"Hey... kamu nggak apa-apa?" Ari berbisik pelan, perlahan menghampiri. Kucing itu hanya menggeram kecil, tak bisa bergerak, seakan meminta bantuan.
Ari menundukkan tubuhnya, lalu dengan hati-hati ia mengangkat kucing itu. Meski kucing itu menggeliat sedikit karena rasa sakit, Ari tetap menggendongnya dengan lembut. "Jangan khawatir, aku akan membawamu ke tempat yang aman," katanya, meski tahu kucing itu tidak bisa mengerti.
Ia menatap sekitar, mencari tempat yang bisa melindungi kucing itu dari hujan. Di depannya, ada sebuah kanopi gedung tua yang cukup besar, cukup untuk memberikan perlindungan dari hujan. Dengan hati-hati, Ari melangkah ke sana, membawa kucing itu dengan penuh perhatian. Setibanya di bawah kanopi, ia memeriksa tubuh kucing yang tampaknya terluka parah di kaki belakang. Darah kucing itu mulai mengalir perlahan, menambah kecemasan di hati Ari.
"Jangan khawatir, aku akan bawa kamu ke dokter hewan secepatnya." Ari berkata sambil mencoba menenangkan diri dan kucing itu, meskipun jantungnya berdegup kencang. Kucing itu menatapnya dengan mata yang penuh ketakutan, seolah mengerti bahwa Ari berusaha menolongnya.
Hujan gerimis semakin lebat, membasahi seluruh jalanan dan menambah suasana suram yang menimpa malam itu. Namun, di tengah kegelapan dan keheningan itu, suara langkah kaki yang pelan mulai terdengar. Ari menoleh, merasakan ada seseorang yang mendekat. Di ujung jalan yang remang-remang, sebuah sosok tampak berjalan ke arahnya. Ia tampak seperti seorang wanita muda, mengenakan jaket dan jeans, tampak sangat biasa, tidak ada tanda-tanda mistis apapun.
Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Ari. Meski tubuh wanita itu sedikit basah karena hujan, ia berjalan dengan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh cuaca yang buruk.
Wanita itu berhenti beberapa langkah di depan Ari dan menatapnya dengan penuh perhatian.
"Apa yang terjadi dengan kucing itu?" tanya wanita itu, suaranya lembut namun terdengar penuh rasa penasaran.
Ari menatapnya, merasa sedikit terkejut. "Oh, kucing ini terluka. Aku menolongnya," jawab Ari, sambil mengangkat kucing itu sedikit lebih tinggi agar wanita itu bisa melihat dengan jelas.
Wanita itu tersenyum tipis, seolah merasakan ketulusan dalam tindakan Ari. "Kamu orang yang baik," ujarnya, mata wanita itu berbinar dengan kekaguman yang tak terucapkan.
Ari merasa sedikit canggung, tidak terbiasa mendapat pujian seperti itu. "Ya, ya... aku hanya merasa kasihan. Lagian, nggak bisa lihat makhluk hidup kesakitan begitu saja," jawab Ari sambil mengangkat bahu, mencoba terdengar biasa saja.
Lalu, untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam. Hujan yang semakin lebat dan suara gemericik air hujan di sekitar mereka tampak seperti membungkam segala pembicaraan.
Wanita itu kembali memecah keheningan, "Aku Laras," katanya dengan lembut, masih menatap Ari dengan mata yang tak bisa disembunyikan. Ada sesuatu yang sangat dalam di matanya—sesuatu yang membuat Ari merasa seperti ia tengah mengungkapkan lebih banyak daripada yang seharusnya.
Ari memandang wanita itu, merasa semakin bingung. "Laras...?" Ari mengulang nama itu dengan suara ragu. "Kamu... siapa?"
Laras hanya tersenyum tipis, ada kedamaian dalam senyumnya yang membuat Ari merasa nyaman. "Aku hanya... seorang pengamat malam. Aku senang melihat orang baik-baik saja." Suaranya kembali melunak, seolah membawa ketenangan bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Apa maksudnya?" Ari bertanya, masih kebingungan.
Laras mengangguk pelan, menatap Ari dengan penuh perhatian. "Kamu sudah cukup membantu kucing ini. Tapi lebih dari itu, kamu memiliki hati yang baik, Ari. Banyak orang yang terlalu sibuk dengan hidup mereka untuk peduli pada hal-hal kecil, pada yang membutuhkan pertolongan. Tapi kamu... kamu berbeda."
Ari terdiam. Kata-kata Laras terasa aneh, namun ada sesuatu yang membuat hatinya tergerak. Ia tidak bisa menjelaskan apa itu, tetapi ada sesuatu dalam tatapan Laras yang membuatnya merasa berbeda—seolah Laras tahu sesuatu yang lebih dari sekadar pertemuan kebetulan ini.
Namun, sebelum Ari sempat berkata apa pun, Laras menghela napas, sedikit menundukkan kepalanya. "Aku harus pergi sekarang," katanya pelan, "Aku... harus melanjutkan perjalananku."
Ari hanya bisa memandangi wanita itu, masih bingung dan bertanya-tanya dalam hati. "Ke mana?" tanya Ari, tetapi Laras sudah menghilang begitu saja, seolah tersapu angin malam yang datang begitu cepat.
Ari terdiam, menatap tempat di mana Laras berdiri sebentar tadi, lalu kembali menunduk pada kucing kecil yang ada di pelukannya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam pertemuan itu—sesuatu yang sulit dijelaskan.