Cherreads

Chapter 5 - Part 4: Retakan di Dinding Kebencian

Sasha mulai memahami ritme kerja di perusahaan Revan Arkana Pradipta. Setiap pagi, ia tiba lebih awal, memastikan agenda hari itu siap, dan menyiapkan dokumen yang dibutuhkan Revan. Tapi meskipun ia mencoba profesional, rasa penasaran dalam dirinya semakin tumbuh.

Ia tidak bisa melupakan bagaimana Revan bersikap saat Davin muncul di kantor beberapa hari lalu. Pria itu yang biasanya sedingin es, berubah menjadi seseorang yang lebih manusiawi di depan anaknya.

Mengingat kejadian itu, Sasha jadi semakin penasaran. Bagaimana kehidupan pria itu sebenarnya di luar kantor?

Hari ini, ia memperhatikan sesuatu yang baru.

Tepat pukul lima sore, seperti biasa, Revan menutup laptopnya dan bersiap pergi. Tak ada rapat lembur, tak ada diskusi tambahan. Ia mengambil jasnya, lalu melangkah keluar tanpa banyak bicara.

Sasha mengecek jam tangannya. Ini kebiasaan yang terlalu konsisten untuk diabaikan.

Dorongan dalam dirinya terlalu kuat untuk ditolak. Dengan cepat, ia meraih tasnya dan mengikuti Revan dari kejauhan.

---

Sasha duduk di dalam taksi, mengawasi mobil hitam Revan yang melaju melalui jalanan kota. Mobil itu akhirnya berhenti di sebuah rumah besar dengan desain modern minimalis.

Rumah Revan.

Dari balik jendela, ia melihat pintu terbuka, dan Davin berlari ke arah ayahnya. Anak itu tersenyum lebar, tangannya terangkat, meminta gendongan.

Revan mengangkatnya dengan mudah, membawa anak itu ke dalam pelukannya. "Hari ini gimana?" tanyanya dengan nada lebih lembut daripada yang pernah Sasha dengar.

"Seru! Aku main bola di sekolah!" Davin tertawa, lalu menempelkan kepalanya ke bahu ayahnya.

Sasha menggigit bibirnya.

Revan yang selama ini ia benci—pria yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran keluarganya—ternyata memiliki sisi seperti ini.

Ia seharusnya merasa puas melihat pria itu menderita, tetapi Revan tidak terlihat seperti orang yang hidup dalam kesengsaraan. Ia tidak seperti seseorang yang dihantui dosa masa lalu.

Sasha mengamati dengan lebih seksama. Revan masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan lampu di ruang tamu menyala. Perlahan, bayangan mereka terlihat dari jendela besar.

Davin melompat ke sofa, masih berbicara dengan antusias. Revan duduk di sebelahnya, melepas jas, dan mendengarkan dengan ekspresi yang jarang terlihat di kantor. Ada kehangatan dalam tatapannya, sesuatu yang hampir membuat Sasha meragukan misinya.

Kenapa pria ini terlihat begitu… manusiawi?

Sasha merapatkan jaketnya. Malam mulai turun, dan udara menjadi lebih dingin. Ia seharusnya pergi. Tapi kakinya seakan enggan bergerak.

Apakah selama ini ia salah?

Tidak. Ia tidak boleh goyah.

Sasha menegakkan punggungnya. Ia datang ke perusahaan ini dengan satu tujuan: menghancurkan Revan Arkana Pradipta. Ia tidak akan membiarkan kelembutan sesaat itu membuatnya ragu.

Tapi, jika Revan benar-benar bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu, kenapa pria itu bisa hidup dengan tenang seperti ini? Kenapa tidak ada tanda-tanda penyesalan dalam dirinya?

Sasha memejamkan mata.

Satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran adalah dengan menggali lebih dalam.

Ia harus mencari tahu lebih banyak. Tentang Revan, tentang Davin, tentang apa yang sebenarnya terjadi di malam kecelakaan itu.

Sasha menghela napas panjang, lalu berbalik dan melangkah pergi. Pertarungan ini masih panjang.

Dan ia belum kalah.

---

Sasha masih berdiri di seberang rumah, memandangi siluet Revan dan Davin di balik jendela. Ia menghela napas, berusaha menenangkan gejolak yang mulai muncul dalam dirinya.

Pikirannya penuh dengan pertanyaan.

Jika Revan memang pria kejam seperti yang ia bayangkan, kenapa ia terlihat begitu hangat terhadap anaknya? Jika ia benar-benar tidak punya hati, kenapa ia bisa tersenyum dengan begitu tulus?

Sasha mengepalkan tangannya.

Mungkin itu semua hanya kepura-puraan. Mungkin Revan hanya bersikap baik kepada anaknya, sementara di balik layar ia tetap monster yang telah menghancurkan hidup keluarganya.

Tapi bagaimana kalau tidak?

Angin malam berhembus pelan, membuatnya menggigil. Ia harus pergi sebelum seseorang memperhatikan kehadirannya.

Namun, tepat saat ia berbalik, suara kecil terdengar.

"Papa! Aku haus!"

Sasha secara refleks menoleh kembali.

Dari jendela, ia melihat Revan bangkit dari sofa, berjalan ke dapur dengan langkah tenang. Davin berlari kecil di belakangnya.

Saat Revan menuangkan air ke dalam gelas, Sasha memperhatikan sesuatu.

Tatapan pria itu berubah.

Tadinya penuh kehangatan, kini samar-samar terlihat ada kehampaan di sana. Seolah ia sedang mengingat sesuatu.

Saat Davin memeluknya dari belakang, ia kembali tersenyum. Tapi senyum itu… tidak sepenuhnya bahagia.

Sasha menyipitkan mata.

Ada sesuatu dalam diri pria ini yang masih tersembunyi. Sesuatu yang tidak ia lihat selama ini.

Sasha menggigit bibirnya.

Mungkin ia harus menggali lebih dalam.

Ia tak bisa hanya mengandalkan kebenciannya sebagai alasan untuk menjatuhkan pria ini. Ia butuh kepastian. Ia butuh bukti.

Langkahnya terasa berat saat ia meninggalkan tempat itu.

Untuk pertama kalinya, hatinya terasa ragu.

---

Keesokan harinya, Sasha duduk di ruangannya, menatap layar komputer dengan kosong. Pekerjaan di depannya belum tersentuh sama sekali.

Gambaran tentang Revan dan Davin masih memenuhi pikirannya.

"Kamu kenapa, sih? Dari tadi ngelamun terus."

Suara kolega sesama sekretaris membuatnya tersadar. Sasha cepat-cepat memasang ekspresi tenang.

"Enggak, cuma lagi banyak pikiran aja."

Rekan kerjanya tertawa. "Kalau kerja sama Pak Revan itu memang harus ekstra fokus. Dia bukan bos yang gampang ditaklukkan."

Sasha mengangguk kecil.

Ya, ia tahu itu. Tapi bukan ketegasan Revan yang sekarang mengganggu pikirannya, melainkan sesuatu yang lebih dalam.

Saat itu, pintu ruangan CEO terbuka, dan Revan keluar dengan langkah cepat. Ia melirik ke arah Sasha sekilas.

"Di ruanganku dalam lima menit," katanya sebelum berjalan pergi.

Sasha menghela napas panjang.

Ia harus mengendalikan dirinya.

---

Di dalam ruangan, Sasha berdiri tegak di depan meja Revan.

"Mulai hari ini, aku ingin kau menyiapkan laporan mingguan setiap pagi, bukan setiap Senin," kata pria itu tanpa basa-basi.

Sasha mengangguk. "Baik, Pak."

Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya meneliti Sasha dengan cara yang hampir membuatnya tidak nyaman.

"Ada yang ingin kau tanyakan?"

Sasha menegang. Apakah ekspresinya terlalu mudah dibaca?

"Tidak, Pak."

Revan mengangkat alis, tapi tidak berkata apa-apa.

"Satu lagi," katanya akhirnya. "Mulai besok, aku ingin kau mengatur jadwal pribadiku juga."

Sasha mengerutkan kening. "Jadwal pribadi?"

"Ya," kata Revan, matanya tetap menatapnya tajam. "Aku ingin kau memastikan semua urusan di luar pekerjaan tetap berjalan lancar. Itu termasuk jadwal dengan Davin."

Sasha terkejut.

Kenapa tiba-tiba ia diberikan akses lebih dalam ke kehidupan pribadi Revan?

Apakah pria itu mulai percaya padanya?

Atau… apakah ini semacam ujian?

Sasha menarik napas, berusaha menjaga ekspresinya tetap netral. "Baik, Pak."

Revan tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk sebelum kembali menatap dokumen di tangannya.

Sasha tahu itu adalah isyarat untuk pergi.

Tapi sebelum ia keluar, ia sempat melihat sesuatu.

Di sudut meja Revan, ada sebuah foto kecil dalam bingkai.

Foto seorang wanita.

Wajahnya cantik, dengan senyum lembut yang hampir terasa akrab.

Sasha mengerutkan kening. Siapa wanita itu?

Apakah… istri Revan?

---

Saat kembali ke mejanya, Sasha masih memikirkan foto itu.

Ia harus mencari tahu lebih banyak.

Jika ingin menjatuhkan Revan, ia harus memahami setiap kelemahannya.

Dan kini, ia merasa telah menemukan celah pertama.

Tapi pertanyaannya… apakah ia siap menghadapi kebenaran yang mungkin ia temukan?

More Chapters