Cherreads

Chapter 4 - Bab 3 – Celah dalam Pertahanan

Sasha tahu betul bahwa Revan Arkana Pradipta bukan pria biasa. Dia bukan sekadar CEO yang berkuasa, tetapi juga pria yang sulit ditebak, sulit didekati, dan lebih sulit lagi untuk dijatuhkan. Tapi itulah tantangannya. Itulah alasannya ada di sini.

Sejak pagi, ia sudah menyesuaikan diri dengan ritme kerja di perusahaan ini. Sebagai sekretaris pribadi, tugasnya tidak hanya mengatur jadwal, tetapi juga memastikan segala sesuatu berjalan dengan lancar untuk Revan.

Namun, satu hal yang ia sadari dengan cepat—pria itu hampir tidak berbicara padanya kecuali untuk memberi instruksi singkat.

"Siapkan laporan rapat dalam 15 menit," ucap Revan tanpa menoleh saat ia mengetik di laptopnya.

Sasha, yang berdiri dengan iPad di tangannya, mengangguk. "Baik, Pak."

Tanpa basa-basi, ia langsung bergerak, menghubungi tim yang bertanggung jawab atas laporan tersebut dan memastikan semuanya beres. Hanya butuh 10 menit, dan ia sudah kembali dengan laporan lengkap di tangannya.

Sasha meletakkan dokumen itu di meja Revan dengan percaya diri. "Sudah siap."

Untuk pertama kalinya sejak pagi, pria itu mengangkat kepala dan menatapnya. Mata tajam itu menelusuri wajahnya sejenak sebelum beralih ke laporan yang baru saja ia berikan.

"Kau cepat," komentar Revan, suaranya datar.

Sasha tersenyum tipis. "Saya tahu waktu Anda berharga, Pak."

Revan tidak menjawab. Ia membaca laporan itu sebentar, lalu tanpa ekspresi, menutupnya dan menatapnya lagi. "Kau belajar cepat."

"Saya hanya melakukan pekerjaan saya," balas Sasha santai.

Mata Revan menyipit sedikit. "Bagus. Jangan buat kesalahan."

Sasha menahan senyum. Ia tahu pria ini masih mengujinya. Ia harus tetap tenang.

--

Saat istirahat makan siang, Sasha diam-diam mengamati sekeliling. Semua karyawan tampak segan pada Revan. Tidak ada yang berani mendekatinya kecuali benar-benar diperlukan.

Namun, ada satu hal yang menarik perhatiannya.

Setiap kali jam makan siang tiba, Revan selalu pergi sebentar dan kembali sekitar satu jam kemudian. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Tidak ada jadwal yang tertulis di kalendernya untuk jam-jam tersebut.

Sasha mengernyit.

Kemungkinan besar, pria ini punya kebiasaan yang tidak ingin diketahui siapa pun.

Dan Sasha akan mengetahuinya.

Hari itu, ia diam-diam mengikuti Revan saat pria itu meninggalkan kantor. Dengan langkah hati-hati, ia menjaga jarak, memastikan dirinya tidak ketahuan.

Revan masuk ke dalam mobil hitamnya dan melaju keluar dari area perusahaan. Sasha langsung memanggil taksi dan mengikutinya dari belakang.

Mobil itu berhenti di sebuah gedung apartemen mewah. Revan keluar dan masuk ke dalam tanpa ragu.

Sasha turun dari taksinya, berdiri di trotoar, dan mengamati bangunan itu.

Siapa yang ada di sana?

Apakah ini apartemen pribadinya? Atau ada seseorang di sana yang penting baginya?

Sasha menggigit bibirnya. Jika ingin menjatuhkan pria ini, ia harus tahu semua rahasianya. Dan ini bisa jadi celah pertamanya.

Tapi ia tidak bisa gegabah. Ia harus mencari tahu lebih lanjut sebelum mengambil langkah selanjutnya.

--

Sore harinya, saat kembali ke kantor, Sasha menemukan sesuatu yang tidak ia duga.

Di ruangannya, ada seorang anak kecil.

Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun, duduk di sofa dengan wajah cemberut, memainkan mobil-mobilan di tangannya.

Revan berdiri di depan meja, sementara seorang wanita paruh baya yang tampaknya seorang pengasuh berbicara padanya dengan wajah cemas.

"Maaf, Pak Revan. Saya benar-benar tidak bisa menemukannya," kata pengasuh itu dengan nada panik.

Revan mengusap pelipisnya, jelas terlihat frustrasi. "Aku bilang jangan biarkan dia pergi tanpa izin."

Sasha berdiri di ambang pintu, terkejut dengan pemandangan itu.

Revan punya anak?

Ini adalah informasi yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Bocah itu tiba-tiba menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan mata besar yang mirip dengan ayahnya.

"Siapa dia?" tanya bocah itu dengan polos.

Sasha berkedip, lalu tersenyum tipis. "Aku Sasha. Sekretaris ayahmu."

Bocah itu mengerutkan kening. "Sekretaris?"

Revan mendesah. "David, jangan berisik."

Tapi bocah bernama David itu tampaknya tidak peduli dengan perintah ayahnya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Sasha, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.

"Kamu cantik," katanya polos.

Sasha terkejut. Ia hampir tertawa, tapi menahannya. "Terima kasih."

Revan menghela napas panjang, lalu menatap Sasha. "Lupakan yang kau lihat."

Sasha menatapnya balik, lalu tersenyum tipis. "Saya tidak melihat apa-apa, Pak." Tapi dalam hatinya, ia tahu satu hal.

Ini adalah celah dalam pertahanan Revan Arkana Pradipta. Dan ia akan menggunakannya.

More Chapters