Cherreads

The Beginning of Ein

FIRLIVERSE
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
1.3k
Views
Synopsis
Hujan deras mengguyur tanah berlumpur, membasahi tubuh kecil seorang anak laki-laki yang terkurung dalam kegelapan. Zack Lauransan—nama yang dulu ia kenal—hanya bisa menggigil, kelaparan, dan menatap dunia dengan mata kosong. Hidup sebagai budak telah mengajarkannya satu hal: harapan hanyalah ilusi yang membawa lebih banyak penderitaan. Namun, takdir berkata lain. Di tengah keputusasaannya, seorang pria berwibawa dan seorang wanita berhati lembut datang ke dalam kandangnya. Mereka menawarkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan: sebuah keluarga. Dengan penuh keraguan, ia menerima uluran tangan mereka, meninggalkan masa lalunya yang kelam. Saat itu, Zack Lauransan pun mati, dan dari abu penderitaannya lahirlah Ein Al. Venustia. Kini, Ein harus menghadapi dunia yang luas dan penuh misteri, tempat di mana takdir, kekuatan, dan rahasia masa lalunya perlahan terungkap. Dengan keluarga barunya di sisinya, ia akan menemukan arti kehidupan, kepercayaan, dan harapan yang sesungguhnya. Namun, bayang-bayang masa lalunya belum sepenuhnya sirna. Siapa sebenarnya Ein? Dan mengapa nasibnya tampak lebih besar dari yang pernah ia bayangkan?
VIEW MORE

Chapter 1 - The Beginning Of A New Life

Hujan deras mengguyur tanah berlumpur, membasahi tubuh kecil seorang anak laki-laki yang duduk merapat di sudut kandang kayu. Napasnya tersengal, tubuhnya menggigil kedinginan, dan perutnya melilit karena kelaparan. Cahaya lentera di luar menerangi sebagian wajahnya yang kotor, memperlihatkan sorot mata kosong yang seakan telah kehilangan harapan.

Namanya Zack Lauransan, atau setidaknya itulah yang ia ingat sebelum hidupnya berubah menjadi mimpi buruk.

Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya dikurung dalam tempat ini, bersama anak-anak lain yang bernasib sama. Mereka semua adalah barang dagangan, dijual dan dibeli sesuka hati para pedagang budak. Kehidupan yang keras telah mengajarkannya satu hal: harapan adalah sesuatu yang berbahaya.

Namun, hari itu berbeda.

Suara langkah kaki mendekat, diiringi suara pintu kayu tua yang terbuka dengan nyaring. Seorang pria berpakaian mewah masuk, diikuti seorang wanita yang memancarkan kelembutan. Mata mereka tertuju pada Zack, yang mencoba bersembunyi lebih dalam ke sudut gelap.

"Kau ingin keluar dari sini?" Suara pria itu dalam, namun hangat.

Zack mengangkat kepalanya, menatap pria itu dengan curiga. Ia sudah sering mendengar kata-kata seperti itu dari calon pembeli sebelumnya, hanya untuk berakhir dalam penderitaan yang lebih besar.

Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Wanita di samping pria itu berlutut di hadapannya, tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Nak. Mulai sekarang, kau tidak perlu takut lagi."

Kata-kata itu, sesederhana apa pun, bagaikan secercah cahaya dalam kegelapan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zack membiarkan dirinya berharap.

---

Malam itu, ia dibawa pergi dari tempat yang telah menjadi nerakanya.

Nama barunya diberikan: Ein Al. Venustia.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan hangatnya genggaman tangan seseorang yang tidak ingin menyakitinya.

Untuk pertama kalinya, ia memiliki keluarga.

----

Kereta kuda melaju pelan di jalan berbatu, meninggalkan bayangan kelam di belakangnya. Di dalamnya, seorang anak laki-laki duduk diam, tubuhnya masih dibalut kain lusuh yang telah lama kehilangan warnanya. Matanya menatap jendela, mengamati dunia luar yang terasa asing.

Ein Al. Venustia.

Itulah nama baru yang diberikan kepadanya. Nama yang masih terasa aneh di lidahnya.

Di seberangnya, wanita yang kini menjadi ibunya, Lilianes Al. Venustia, duduk dengan senyum hangat. Rambut peraknya jatuh terurai, memancarkan kelembutan yang belum pernah Ein rasakan sebelumnya. Sementara itu, pria di sampingnya, Herzain Al. Venustia, bersandar dengan tangan terlipat, memperhatikan Ein dalam diam.

Sejujurnya, Ein tidak tahu bagaimana ia harus bersikap. Seumur hidupnya, ia hanya mengenal dunia yang dingin dan penuh penderitaan. Sekarang, ia tiba-tiba menjadi bagian dari keluarga bangsawan. Apakah ini mimpi? Atau hanya permainan kejam lainnya yang akan berakhir dengan rasa sakit?

"Kau tidak perlu terlalu khawatir, Ein," kata Lilianes lembut. "Di rumah, kau akan bertemu kakakmu, Seylia. Dia pasti senang bertemu denganmu."

Ein menunduk, menggenggam jari-jarinya erat. Kakak?

Seylia Al. Venustia.

Dua hari lebih tua darinya. Apa dia akan menerimanya? Atau justru membencinya karena tiba-tiba masuk ke dalam keluarganya?

Kereta akhirnya berhenti.

Ketika pintu dibuka, Ein terpaku.

Sebuah kastil megah berdiri di hadapannya, menjulang tinggi dengan dinding putih berkilauan di bawah sinar bulan. Halaman luas dihiasi taman bunga yang begitu indah, kontras dengan dunia kelam yang selama ini ia kenal.

Lilianes turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangan pada Ein.

"Ayo, ini rumahmu sekarang."

Ein menatap tangan itu. Ragu. Takut. Namun, pada akhirnya, ia mengulurkan tangannya juga.

Mungkin… hanya mungkin, ini bukan mimpi buruk lainnya.

Mungkin, ini adalah awal dari sesuatu yang baru.

---

Saat Ein melangkah masuk ke dalam kastil, rasa hangat menyelimuti tubuhnya. Udara di dalam lebih nyaman dibandingkan dunia luar yang dingin dan keras. Lampu kristal menggantung di langit-langit, menerangi aula utama dengan cahaya lembut keemasan.

Namun, Ein tidak bisa menikmati semua itu.

Di depan tangga utama, seorang gadis berdiri.

Ia memiliki rambut perak yang indah dan mata biru terang yang mencerminkan keanggunan seorang bangsawan sejati. Pakaian yang dikenakannya begitu bersih dan elegan, sesuatu yang jauh dari jangkauan Ein selama ini.

Ein menatap gadis itu.

Dan gadis itu juga menatapnya.

Bukan dengan senyuman, bukan dengan sambutan hangat, tetapi dengan ekspresi bingung.

"…Ayah? Ibu?" Gadis itu berbicara, suaranya lembut namun penuh kebingungan. "Kenapa kalian datang terlambat? Dan… siapa dia?"

Mata Ein melebar sedikit.

Dia tidak tahu siapa aku.

Lilianes tersenyum lembut. "Seylia, sayang. Ini adikmu."

"Adik?" Seylia mengerutkan kening. Tatapannya bergeser dari ibunya ke ayahnya, lalu kembali ke Ein.

Tak ada kebencian di sana. Tak ada rasa jijik atau amarah. Hanya kebingungan.

"Sejak kapan aku punya adik?" tanyanya polos.

Ein menggigit bibirnya, menundukkan kepala. Tentu saja. Bagaimana mungkin seorang bangsawan seperti dia menganggapku saudaranya?

Herzain, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Mulai hari ini, dia adalah bagian dari keluarga kita. Namanya Ein Al. Venustia. Perlakukan dia dengan baik."

Seylia masih terlihat bingung, tapi tidak membantah. Ia hanya menatap Ein lebih lama, seolah mencoba memahami situasinya.

Lilianes kemudian mendekat, mengusap lembut kepala Ein. "Seylia, Ein mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Bisakah kau membantunya?"

Seylia diam sejenak. Lalu, ia menghela napas dan mengangguk.

"…Baiklah."

Namun, saat Seylia kembali menatap Ein, sorot matanya masih penuh tanda tanya.

Dan Ein tahu, malam ini hanyalah permulaan dari perjalanan panjangnya untuk diterima di keluarga ini.

------

Makan malam berlangsung dalam keheningan.

Ein duduk di ujung meja panjang yang dihiasi berbagai hidangan lezat. Di hadapannya, Lilianes tersenyum lembut seperti biasa. Herzain duduk di sisi lain, sesekali menyeruput anggur dengan tenang.

Sementara itu, di seberang Ein, Seylia terus meliriknya.

Sejak tadi, gadis itu belum benar-benar berbicara padanya. Tidak ada sapaan, tidak ada pertanyaan, hanya tatapan bingung yang sesekali berubah menjadi rasa ingin tahu.

Ein tidak tahu harus berkata apa.

Dari semua orang di ruangan ini, Seylia adalah satu-satunya yang paling sulit ia pahami.

Apakah dia membenciku? Atau hanya bingung dengan kehadiranku?

"Ein."

Ein tersentak. Itu suara Herzain.

"Mulai sekarang, kau adalah bagian dari keluarga ini. Kau tak perlu menundukkan kepala setiap saat," katanya, melihat bagaimana Ein terus menunduk sejak makan dimulai.

Ein menggigit bibirnya dan mengangguk pelan. "Iya… Ayah."

Seylia tersedak.

Batuk kecil keluar dari mulutnya saat ia buru-buru meminum air. Matanya membesar, jelas terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.

"A-Ayah?" Seylia menatap Herzain, lalu kembali ke Ein.

Ein merasa panik. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?

Lilianes hanya tertawa pelan. "Seylia, sayang, jangan kaget begitu. Mulai sekarang, Ein juga anak kami."

"Tapi… ini terlalu tiba-tiba…" gumam Seylia, menunduk sedikit.

Tak ada yang menyalahkannya. Seylia tumbuh sebagai satu-satunya anak bangsawan Venustia. Sekarang, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki asing yang masuk ke dalam keluarganya dan memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan 'ayah' dan 'ibu'.

Namun, bagi Ein, ini lebih sulit lagi.

Ia hanyalah budak yang dibeli. Tak peduli mereka memberinya nama baru atau mengatakan ia bagian dari keluarga, kenyataannya tetap sama—ia bukan benar-benar darah daging mereka.

Dan Seylia mungkin juga menyadari hal itu.

Setelah makan malam, Ein mengikuti seorang pelayan menuju kamarnya.

Saat pintu terbuka, ia terpaku.

Ruangan itu lebih besar dari seluruh tempat ia pernah tidur sebelumnya. Tempat tidurnya luas, selimutnya terlihat lembut, dan ada perapian yang membuat ruangan terasa hangat.

"…Ini kamar untukku?" Ein bertanya pelan.

Pelayan itu mengangguk. "Tuan muda Ein, jika Anda butuh sesuatu, jangan ragu untuk memanggil kami."

Tuan muda?

Ein tidak terbiasa dipanggil begitu. Bahkan, ia tidak terbiasa dengan semua ini.

Namun, sebelum ia sempat mencerna semuanya, ada suara ketukan di pintu.

Saat ia membukanya, Seylia berdiri di sana.

"…Boleh aku masuk?" tanyanya pelan.

Ein menelan ludah, lalu mengangguk.

Gadis itu melangkah masuk dan melihat-lihat kamar Ein. Sepertinya, ia juga sedikit canggung.

Beberapa saat, tak ada yang berbicara.

Hingga akhirnya, Seylia menatap Ein dengan serius.

"Aku ingin bertanya sesuatu," katanya.

Ein mengangguk. "Apa itu?"

Seylia menarik napas. "Sebenarnya… kau ini siapa?"

------

Kamar yang tadi terasa luas kini dipenuhi ketegangan.

Ein berdiri di dekat pintu, sementara Seylia berdiri di tengah ruangan, menatapnya dengan serius.

"Sebenarnya… kau ini siapa?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Ein merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa ia hanyalah seorang budak yang dibeli oleh orang tua Seylia?

Namun, jika ia mengatakan itu… apakah Seylia akan membencinya?

Melihat Ein terdiam, Seylia menghela napas dan melipat tangan di dadanya.

"Aku tidak bermaksud jahat," katanya. "Aku hanya… ingin tahu. Tiba-tiba saja ada anak laki-laki asing yang masuk ke keluargaku, dipanggil adikku, dan bahkan memanggil orang tuaku dengan 'ayah' dan 'ibu'."

Tatapan Ein menunduk. Aku mengerti perasaannya.

"…Aku hanya ingin tahu siapa kau sebenarnya," lanjut Seylia. "Aku ingin mengerti."

Ein menggigit bibirnya. Ia masih ragu.

Namun, sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa Seylia tidak akan berhenti bertanya sampai ia mendapatkan jawaban.

Akhirnya, dengan suara pelan, Ein berbicara.

"Aku… tidak punya keluarga sejak kecil," katanya. "Aku tidak ingat siapa orang tuaku. Yang aku tahu hanyalah… aku pernah hidup di jalanan, lalu suatu hari, aku dijual."

Seylia membelalakkan matanya. "Dijual?"

Ein mengangguk. "Aku adalah budak."

Kata-kata itu membuat ruangan menjadi sunyi.

Ein mengira Seylia akan bereaksi dengan jijik atau marah. Namun, yang ia temukan hanyalah kebingungan di wajah gadis itu.

"Budak?" ulang Seylia, seakan kata itu sulit ia pahami.

Bagi seorang bangsawan, konsep perbudakan mungkin hanya sesuatu yang mereka dengar dari cerita atau buku. Tapi bagi Ein, itu adalah kenyataan yang selama ini ia jalani.

"Ya," jawab Ein. "Aku dijual. Aku tidak tahu ke mana aku akan dibawa, tapi saat itulah… ayah dan ibu menemukan aku."

Ia menatap Seylia dengan ragu. "Mereka membeliku… dan membawaku ke sini."

Seylia diam. Tatapannya bergeser ke lantai, seolah sedang memproses apa yang baru saja ia dengar.

"…Jadi begitu."

Ein menunggu. Ia menunggu reaksi yang akan datang.

Apakah Seylia akan mengatakan bahwa ia tidak pantas ada di sini? Apakah ia akan meminta agar Ein dikembalikan ke tempat asalnya?

Namun, yang terjadi justru di luar dugaannya.

Seylia tertawa kecil.

Bukan tawa mengejek atau meremehkan. Melainkan tawa pelan yang lebih seperti… keheranan.

"Kau tahu? Aku benar-benar tidak mengerti cara berpikir ayah dan ibu," katanya sambil menggelengkan kepala. "Mereka pergi, dan ketika kembali… mereka membawakan seorang adik untukku, begitu saja."

Ein menatapnya, tidak tahu harus berkata apa.

"Tapi…" Seylia menghela napas, lalu menatap Ein dengan lebih santai. "Sejujurnya, aku tidak keberatan."

Mata Ein melebar. "Kau… tidak keberatan?"

Seylia mengangkat bahu. "Ya. Aku memang terkejut, tapi… kalau ayah dan ibu sudah memutuskan, maka aku akan menerimanya."

Ein masih sulit mempercayai apa yang ia dengar.

Seylia melangkah lebih dekat, lalu menatapnya dari dekat.

"Aku tidak tahu apa yang sudah kau lalui, tapi mulai sekarang, kau adalah Ein Al. Venustia. Itu yang penting."

Kata-katanya terdengar tegas, seolah menegaskan bahwa status Ein sebagai anggota keluarga bukan sesuatu yang bisa diperdebatkan.

Entah kenapa, dada Ein terasa hangat.

"…Terima kasih," katanya pelan.

Seylia tersenyum tipis. "Tapi jangan salah paham," tambahnya. "Hanya karena kau adikku, bukan berarti aku akan bersikap lembut padamu setiap saat."

Ein mengangkat alis. "Maksudmu?"

Seylia menyeringai kecil. "Aku tidak akan membiarkanmu kalah dariku dalam segala hal."

Ein mengerjap, lalu tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya benar-benar diterima.

Dan mungkin… memiliki seorang kakak perempuan tidak seburuk yang ia bayangkan.

------

Pagi pertama Ein di Kastil Venustia dimulai dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar kamarnya.

Saat ia membuka mata, ia masih belum terbiasa dengan tempat tidur empuk yang menyelimutinya. Ini jauh berbeda dari lantai dingin dan keras tempat ia biasa tidur. Apakah ini mimpi?

Namun, saat ia melihat langit-langit tinggi dan ukiran indah di dinding kamarnya, ia sadar bahwa semuanya nyata.

Ia benar-benar ada di sini.

Ia sekarang adalah Ein Al. Venustia.

---

Ketukan di pintu mengejutkan Ein.

"Tuan muda Ein, apakah Anda sudah bangun?" suara seorang pelayan terdengar dari luar.

Ein masih belum terbiasa dengan cara mereka memanggilnya. Tuan muda. Itu terasa asing.

"…Ya, aku sudah bangun."

Pintu terbuka, dan seorang pria tua dengan pakaian rapi masuk. Seorang kepala pelayan.

Nama pria itu adalah Sebastian, kepala pelayan keluarga Venustia yang sudah melayani keluarga ini selama bertahun-tahun.

Sebastian menatap Ein dengan ramah. "Hari ini adalah hari pertama Anda sebagai bagian dari keluarga Venustia. Saya akan membantu Anda bersiap-siap."

Sebelum Ein sempat menjawab, beberapa pelayan masuk, membawa pakaian bersih yang terlihat mahal. Mereka dengan cepat membantu Ein membersihkan diri dan mengganti pakaian lusuhnya dengan pakaian bangsawan berwarna biru tua yang elegan.

Saat ia melihat dirinya di cermin, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

Dulu, ia hanya seorang anak jalanan kotor.

Sekarang, ia berdiri dengan pakaian yang hanya bisa diimpikan oleh orang-orang seperti dirinya.

Namun… apakah ia pantas mengenakan ini?

---

Saat Ein turun ke ruang makan, ia melihat keluarganya sudah menunggu.

Lilianes menyambutnya dengan senyum hangat, sementara Herzain hanya mengangguk tenang.

Namun, perhatian Ein tertuju pada Seylia.

Gadis itu sedang duduk sambil menyeruput teh, lalu mengangkat alis saat melihat Ein.

"…Wow," katanya.

Ein sedikit canggung. "Apa?"

Seylia menyeringai. "Kau terlihat seperti bangsawan sungguhan sekarang."

Ein tidak tahu apakah itu pujian atau ejekan.

Namun, sebelum ia bisa menjawab, Lilianes berbicara, "Ein, bagaimana tidurmu tadi malam? Apakah kau merasa nyaman?"

Ein mengangguk pelan. "Ya… tempat tidurnya sangat empuk."

Seylia terkikik. "Ya jelas. Ini bukan jerami atau lantai dingin."

Ein menundukkan kepala. Itu memang benar.

Namun, Seylia tiba-tiba meletakkan cangkir tehnya dan menatapnya serius.

"Kau sadar, kan, bahwa kehidupan di sini tidak akan semudah yang kau pikirkan?"

Ein mengangkat alis. "…Maksudmu?"

Seylia bersandar di kursinya. "Menjadi bagian dari keluarga Venustia bukan hanya soal hidup enak. Ada banyak aturan, ada banyak orang yang akan memperhatikan setiap gerakanmu."

Ia menatap Ein dengan tajam.

"Ayah dan ibu mungkin menerima keberadaanmu, tapi itu tidak berarti semua orang akan melakukan hal yang sama."

Ein merasakan perutnya sedikit tegang.

"Yang dimaksud Seylia benar," Herzain akhirnya berbicara. "Dunia bangsawan adalah tempat yang kejam. Mereka yang lahir dalam keluarga ini memiliki tanggung jawab besar."

Lilianes tersenyum lembut. "Tapi jangan khawatir, Ein. Kami akan membantumu menyesuaikan diri."

Ein mengangguk, meskipun di dalam hatinya ada rasa takut.

Apakah ia benar-benar bisa bertahan di dunia ini?

---

Hari itu, Ein mulai belajar tentang bagaimana menjadi seorang bangsawan.

Seylia, meskipun awalnya bingung dengan kehadirannya, kini tampaknya menikmati perannya sebagai "kakak yang lebih tahu segalanya."

"Kau harus tahu cara berbicara dengan sopan."

"Kau harus tahu cara makan dengan benar."

"Kau harus tahu bagaimana cara berjalan dengan anggun."

Ein merasa seperti bayi yang baru belajar berjalan.

Semua yang dia lakukan selalu dikoreksi oleh Seylia. Bahkan cara ia memegang sendok pun dianggap "terlalu kasar."

Namun, saat Ein mulai kesal, Seylia malah tertawa.

"Kau ini lucu," katanya.

Ein mengerutkan kening. "Lucu?"

Seylia mengangguk. "Biasanya aku selalu sendirian dalam hal-hal seperti ini. Tapi sekarang ada kau, jadi setidaknya aku punya seseorang untuk diejek."

Ein mendesah. Jadi ini hanya hiburan baginya?

Namun, anehnya… ia merasa sedikit lebih nyaman.

---

Saat pelatihan mereka selesai untuk hari itu, Ein duduk di taman belakang kastil, menikmati udara segar.

Ia tidak menyangka hidup sebagai bangsawan bisa begitu melelahkan.

Namun, tiba-tiba, Seylia datang dan duduk di sebelahnya.

"Kau lelah?" tanyanya.

Ein mengangguk. "Sangat."

Seylia tertawa kecil. "Aku juga dulu begitu. Tapi lama-lama kau akan terbiasa."

Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat.

Namun, tiba-tiba, Seylia berbicara dengan nada yang lebih lembut.

"Kau tahu… aku sebenarnya senang kau ada di sini."

Ein menatapnya, sedikit terkejut.

Seylia tersenyum tipis. "Sebelumnya, aku selalu sendirian. Tidak ada saudara, tidak ada teman sebaya di kastil ini. Hanya ada aku, ayah, ibu, dan para pelayan."

Ia menatap langit. "Kadang aku berpikir… bagaimana rasanya memiliki seseorang yang bisa diajak bertengkar atau berbicara?"

Ein terdiam. Ia tidak menyangka Seylia, yang terlihat kuat dan percaya diri, sebenarnya merasa kesepian.

"Aku masih tidak sepenuhnya mengerti kau," lanjut Seylia. "Tapi… aku ingin mencoba."

Ein menatap gadis itu.

Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke tempat ini, ia merasa seseorang benar-benar menerima kehadirannya.

Ia tersenyum kecil.

"…Terima kasih, Seylia."

Seylia mendengus. "Jangan berterima kasih terlalu cepat. Aku masih akan membuat hidupmu sulit."

Ein tertawa kecil. "Kita lihat saja nanti."

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ein tidak merasa sendirian lagi.

-----

Kehidupan Ein sebagai Ein Al. Venustia baru saja dimulai, tapi ia segera menyadari bahwa menjadi seorang bangsawan bukan hanya tentang kemewahan.

Hari-hari yang penuh latihan menjadi rutinitasnya—belajar etiket, berbicara dengan sopan, bahkan cara berjalan pun diajarkan ulang.

Namun, ada satu hal yang lebih berat daripada semua itu.

Dunia luar akhirnya mengetahui keberadaannya.

---

"Apakah kau sudah mendengar? Keluarga Venustia tiba-tiba memiliki anak kedua."

"Aneh, bukan? Seylia adalah satu-satunya pewaris mereka… jadi siapa bocah ini?"

"Beberapa orang bilang dia anak haram Herzain."

"Ada juga yang bilang dia anak dari keluarga yang sudah Musnah, lalu diadopsi untuk tujuan tertentu…"

Ein tidak mendengar langsung semua rumor itu, tapi ia bisa merasakannya.

Tatapan yang berubah saat ia melewati pelayan yang tidak mengenalnya.

Percakapan yang tiba-tiba terhenti saat ia mendekat.

Bahkan saat makan malam bersama Herzain, Lilianes, dan Seylia, ia bisa merasakan atmosfer yang berbeda.

Ia sudah bukan lagi anak budak yang tak dikenal.

Sekarang, ia menjadi topik pembicaraan banyak orang.

---

Suatu malam, saat Ein sedang beristirahat di taman, Herzain datang dan duduk di sebelahnya.

Ein masih belum terbiasa dengan kehadiran pria itu. Ayah angkatnya.

"Bagaimana harimu?" Herzain bertanya, suaranya dalam seperti biasa.

Ein mengangguk pelan. "Baik… tapi… ada sesuatu yang menggangguku."

Herzain mengangguk, seakan sudah tahu apa yang akan Ein katakan.

"Rumor tentangku…" Ein melanjutkan. "Apakah itu masalah besar?"

Herzain menatap ke langit malam, lalu berkata dengan tenang, "Dunia bangsawan selalu penuh dengan rumor, Ein. Jika kau tidak cukup kuat, kau akan dihancurkan oleh mereka."

Ein terdiam.

"Kau tidak harus membalas mereka," lanjut Herzain. "Tapi kau juga tidak bisa hanya diam."

Ein menatap Herzain dengan serius. "Lalu… apa yang harus aku lakukan?"

Herzain tersenyum tipis. "Buktikan bahwa kau layak menjadi Ein Al. Venustia."

Buktikan.

Itu bukan tugas yang mudah.

Tapi Ein tahu, ia tidak bisa selamanya bersembunyi dari dunia.

---

Ujian Pertama – Perjamuan Bangsawan

Beberapa hari kemudian, Ein mendapatkan tantangan pertama dalam kehidupan barunya.

Sebuah undangan tiba di Kastil Venustia—undangan untuk menghadiri perjamuan para bangsawan muda.

Acara itu akan dihadiri oleh anak-anak dari berbagai keluarga bangsawan. Itu bukan sekadar acara makan-makan biasa.

Itu adalah ajang untuk menilai siapa yang lemah dan siapa yang kuat.

Seylia segera bereaksi saat mendengar hal ini.

"Kalau kau pergi ke sana, kau akan dikelilingi oleh orang-orang yang ingin menghinamu."

Ein menatap Seylia. "Lalu apa yang harus kulakukan?"

Seylia menyeringai. "Tunjukkan bahwa kau bukan seseorang yang bisa diremehkan."

---

Malam Perjamuan – Pertemuan dengan Para Bangsawan

Saat Ein tiba di tempat perjamuan, ia segera merasakan tekanan yang kuat.

Semua mata tertuju padanya.

Ein Al. Venustia.

Seorang anak yang muncul entah dari mana.

Seorang bocah yang tiba-tiba menjadi anggota keluarga bangsawan.

Ia bisa merasakan bagaimana beberapa orang tersenyum pura-pura, sementara yang lain menatapnya dengan jelas penuh keraguan.

Lalu, seseorang mendekatinya.

Seorang pemuda dengan rambut cokelat keemasan dan mata hijau tajam.

"Jadi… kau adalah Ein Al. Venustia."

Suaranya terdengar ramah, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.

Ein menatapnya. "Ya, aku Ein."

Pemuda itu tersenyum, lalu memperkenalkan dirinya.

"Aku Reinhardt Al. Zephiron."

Zephiron.

Salah satu keluarga bangsawan tertua dan paling berpengaruh di kerajaan.

Dan Reinhardt… bukan orang yang bisa dianggap remeh.

Reinhardt menatap Ein dengan tajam, lalu berkata, "Kau tahu? Banyak yang bertanya-tanya… apakah kau benar-benar pantas menyandang nama Venustia."

Ein tidak menjawab. Ia tahu ini adalah ujian.

Reinhardt menyeringai. "Jadi, bagaimana kalau kita cari tahu?"

Seketika, suasana perjamuan menjadi lebih tegang.

Semua mata tertuju pada mereka.

Seylia, yang berdiri tidak jauh dari Ein, langsung mengerutkan kening.

"Ein, jangan dengarkan dia," bisiknya.

Tapi Ein tahu, ini adalah momen penting.

Jika ia menghindar, maka semua orang akan menganggapnya lemah.

Ein menatap Reinhardt, lalu berbicara dengan suara mantap.

"Baik. Aku siap."

Reinhardt tertawa kecil. "Bagus. Mari kita lihat seberapa layak kau sebagai seorang bangsawan."

Dan begitu saja, pertempuran pertama Ein di dunia bangsawan telah dimulai.

-----

Ein berdiri di tengah aula, berhadapan dengan Reinhardt Al. Zephiron, salah satu bangsawan muda paling berpengaruh di sini.

Namun, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh—

"Kalian terlalu bersemangat."

Suara yang dalam dan berwibawa menggema di seluruh ruangan.

Semua orang menoleh.

Seorang pria berdiri dengan anggun di pintu masuk, mengenakan mantel hitam dengan emblem emas yang hanya dimiliki oleh kaum Duke.

Duke Alistair Al. Regendorf.

Seorang pria yang tidak hanya memiliki kekuasaan besar, tetapi juga dihormati dan ditakuti oleh banyak bangsawan lainnya.

Dan di sampingnya…

Seorang gadis berambut perak panjang dengan mata safir yang memancarkan keanggunan dan kecerdasan berdiri dengan tenang.

Dia memakai gaun biru elegan yang serasi dengan warna matanya, dan auranya begitu kuat sehingga membuat banyak orang menahan napas.

Putri Duke Regendorf—Celestine Al. Regendorf.

Salah satu putri bangsawan paling terkenal di generasinya.

Seorang gadis yang selevel dengan Seylia.

Dan sekarang, mata biru tajamnya sedang menatap Ein.

---

Saat Duke Alistair melangkah masuk, para bangsawan muda segera memberi hormat.

Termasuk Reinhardt yang tadi menantang Ein.

"Duke Regendorf," kata Reinhardt dengan nada hormat.

Duke Alistair hanya mengangguk ringan.

Lalu, matanya beralih ke Ein.

"Kau anak baru itu, bukan?"

Suara pria itu dalam dan berwibawa, seolah setiap katanya memiliki bobot yang luar biasa.

Ein tidak mundur.

Ia berdiri tegak dan menatap langsung ke arah sang Duke.

"…Ya. Aku Ein Al. Venustia."

Mata Alistair sedikit menyipit, lalu ia tersenyum tipis.

"Menarik."

Celestine, yang berdiri di sampingnya, juga menatap Ein.

Tapi berbeda dengan ayahnya yang terlihat santai, mata Celestine penuh analisis.

Seakan ia sedang mencoba menilai sesuatu dari Ein.

Dan di sisi lain ruangan—

Seylia hanya melipat tangan dan mendecakkan lidah.

"Tch, jadi Celestine juga datang," gumamnya.

Ein melirik Seylia.

"…Kau mengenalnya?"

Seylia mendengus. "Tentu saja. Kami sering bertemu dalam acara bangsawan."

Lalu ia menatap Celestine dengan ekspresi persaingan.

"Dia itu… salah satu rivalku."

---

Setelah kedatangan Duke Regendorf, suasana sedikit berubah.

Ein mulai memperhatikan anak-anak bangsawan lainnya yang hadir di perjamuan ini.

Reinhardt Al. Zephiron – Pemuda dengan rambut cokelat keemasan dan mata hijau tajam, memiliki aura pemimpin.

Cedric Al. Vernhardt – Anak dari keluarga Count, seorang pemuda dengan rambut hitam dan ekspresi yang selalu tenang.

Iris Al. Montclair – Gadis berambut merah dengan mata emas, memiliki reputasi sebagai "si rubah licik" di kalangan bangsawan muda.

Julius Al. Faure – Pemuda berkacamata dari keluarga Viscount yang dikenal cerdas dan penuh strategi.

Celestine Al. Regendorf – Putri Duke dengan kecantikan luar biasa dan kecerdasan yang tak bisa diremehkan.

Seylia Al. Venustia – Kakak angkat Ein yang terkenal dengan kecantikannya dan kecerdasannya yang tajam.

Mereka semua adalah pemain besar dalam dunia bangsawan muda.

Dan kini, Ein berada di antara mereka.

---

Setelah kehadiran Duke Alistair, Reinhardt menatap Ein kembali.

"Tampaknya pertarungan fisik tidak akan diizinkan di sini…" katanya sambil menyeringai.

Ia melirik Celestine, yang hanya menatapnya dengan dingin.

Jelas, ia tidak ingin membuat kekacauan di hadapan putri seorang Duke.

Namun, Reinhardt tidak menyerah begitu saja.

"Jadi bagaimana kalau kita mengujimu dengan cara lain?" katanya sambil menyilangkan tangan.

Ein tetap tenang. "Apa maksudmu?"

Iris, gadis berambut merah, tersenyum tipis. "Sederhana saja. Dunia bangsawan bukan hanya soal kekuatan, tapi juga kecerdasan."

Julius, si pemuda berkacamata, mengangguk. "Bagaimana jika kita melakukan permainan strategi?"

Ein menatap mereka semua.

Mereka ingin mengujinya.

Bukan dengan pedang.

Tapi dengan akal dan kecerdasan.

Dan ini bahkan lebih berbahaya.

---

Pertarungan Kecerdasan Dimulai

Sebuah meja besar dipersiapkan di tengah aula.

Di atasnya terdapat sebuah papan catur khusus, permainan yang sangat populer di kalangan bangsawan.

Namun, permainan ini bukan sekadar catur biasa.

Ini adalah "Strategi Kerajaan", sebuah permainan yang lebih kompleks, di mana setiap pemain mengendalikan kerajaan kecil dan harus menggunakan politik, diplomasi, dan perang untuk menang.

Ein tidak pernah memainkan permainan ini sebelumnya.

Tapi ia tahu satu hal—

Ini adalah ujian yang akan menentukan apakah ia bisa diterima atau tidak dalam dunia bangsawan.

Celestine tiba-tiba melangkah maju.

"Aku juga akan ikut."

Semua orang menoleh ke arahnya.

Mata Seylia langsung menyipit.

"…Tentu saja kau mau ikut."

Celestine hanya tersenyum dingin.

"Kalau anak baru ini ingin diakui, maka ia harus membuktikan dirinya. Dan aku ingin melihatnya sendiri."

Ein menghela napas.

Pertarungan kecerdasan ini baru saja dimulai.

Dan ia tidak punya pilihan selain memenangkannya.

-----

Awal Permainan – Strategi Kerajaan Dimulai

Di tengah aula yang dipenuhi para bangsawan muda, meja besar dengan papan Strategi Kerajaan telah disiapkan.

Ein duduk menghadap lima lawan yang luar biasa:

1. Reinhardt Al. Zephiron – Pemimpin alami, agresif dalam permainan.

2. Cedric Al. Vernhardt – Tenang dan penuh perhitungan.

3. Iris Al. Montclair – Penuh trik dan siasat licik.

4. Julius Al. Faure – Ahli strategi yang terkenal cerdas.

5. Celestine Al. Regendorf – Lawan yang paling berbahaya, seorang Duke muda yang punya reputasi sempurna.

Permainan ini bukan sekadar menggerakkan pasukan.

Pemain harus mengelola kerajaan mereka, membangun aliansi, membaca psikologi lawan, dan mencari celah untuk menang.

Dan Ein…

Belum pernah memainkan permainan ini sebelumnya.

Namun, saat papan permainan mulai disusun, matanya mulai bekerja.

---

Begitu pion-pion diletakkan, Ein tidak langsung bermain.

Sebaliknya…

Ia mengamati.

Matanya bergerak cepat, menganalisis setiap bagian papan.

Setiap pergerakan tangan lawan.

Ekspresi mereka saat meletakkan pion.

Strategi awal mereka langsung terbaca olehnya.

Reinhardt langsung mengambil pendekatan agresif, menyerang wilayah kecil di awal.

Cedric memilih bertahan dengan sumber daya yang stabil.

Iris mencoba memanipulasi Reinhardt agar menyerang pemain lain lebih dulu.

Julius menyusun strategi jangka panjang, menyiapkan ekonomi kerajaan yang kuat.

Celestine diam… tapi gerakannya sangat efisien.

Ein menarik napas dalam.

Ia tahu cara berpikir mereka.

Sekarang, ia hanya perlu memanfaatkannya.

---

Saat giliran pertama Ein tiba, semua orang menatapnya.

Mereka ingin tahu bagaimana anak baru ini akan bermain.

Ein hanya tersenyum tipis.

Dan dalam satu gerakan, ia mengambil keputusan yang mengejutkan.

Alih-alih menyerang, ia mengamankan wilayah dengan sumber daya tinggi di tengah peta.

Tempat yang strategis, tapi rentan terhadap serangan dari semua sisi.

Reinhardt menyeringai. "Keputusan berani."

Tapi Ein tidak sekadar asal memilih.

Ia tahu psikologi permainan.

Jika ia mengambil wilayah di pinggiran, ia akan dianggap sebagai ancaman lemah dan diabaikan.

Tapi dengan mengambil pusat peta, ia akan memaksa semua orang untuk memperhatikannya.

Sekarang, ia bisa mengontrol arah permainan.

---

Celestine akhirnya berbicara.

"Kau bergerak dengan percaya diri… untuk seseorang yang baru pertama kali bermain."

Suara gadis itu tenang, tapi ada ketajaman tersembunyi di baliknya.

Ia tahu.

Ia menyadari bahwa Ein bukan sekadar pemula biasa.

Celestine kemudian memindahkan pionnya ke wilayah dekat Ein.

Bukan untuk menyerang.

Tapi untuk mengecoh.

Ia ingin melihat apakah Ein bisa membaca niatnya.

Ein tersenyum.

"Menarik."

Lalu, dalam satu gerakan cepat—

Ein mengabaikan perangkap Celestine dan malah membuat aliansi dengan Julius.

Mengejutkan semua orang.

Celestine mengangkat alis tipisnya.

"…Kau bisa membacanya?"

Ein hanya tersenyum.

"Aku bisa membaca segalanya."

---

Seiring berjalannya waktu, pola permainan mulai berubah.

Setiap pemain awalnya memiliki strategi masing-masing.

Namun, perlahan…

Mereka semua mulai mengikuti ritme Ein.

Reinhardt semakin terpojok karena strateginya terlalu agresif.

Iris mencoba memanipulasi Ein, tapi malah terjebak dalam rencana yang dibuatnya sendiri.

Julius dan Cedric mulai bekerja sama dengan Ein karena membaca keunggulannya.

Dan Celestine… mulai benar-benar tertarik.

Perlahan tapi pasti, Ein mulai mengendalikan alur permainan.

Dan para bangsawan muda mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.

Bukan lagi sebagai "anak baru yang tidak dikenal."

Tapi sebagai seseorang yang berbahaya.

---

Setelah beberapa ronde, hasilnya mulai terlihat.

Ein tidak perlu menang dengan menghancurkan semua lawan.

Sebaliknya…

Ia membuat semua lawan menyadari bahwa melawannya adalah pilihan buruk.

Tanpa harus bertarung langsung, Ein menang secara tidak langsung.

Menggunakan otaknya.

Celestine akhirnya bersandar di kursinya dan menatap Ein dengan tatapan tajam.

"…Menarik."

Reinhardt hanya tertawa kecil.

"Kau benar-benar bukan anak biasa, Ein."

Iris menghela napas. "Aku benci mengakuinya… tapi kau sangat menjengkelkan."

Seylia, yang sejak awal hanya mengamati, akhirnya tersenyum tipis.

Adiknya baru saja menggebrak dunia bangsawan.

Dan semua orang sadar akan keberadaannya sekarang.

------

Akhir Permainan – Celestine yang Tidak Bisa Dikalahkan

Aula yang penuh dengan bangsawan muda hening.

Di atas meja permainan, hanya tersisa Ein, Cedric, Julius… dan Celestine.

Semua pemain lain telah dikalahkan oleh Ein.

Namun, kini mereka berhadapan dengan satu lawan yang lebih kuat dari dugaan mereka.

Celestine duduk dengan ekspresi tenang, matanya tajam menatap papan permainan.

Ein mengerutkan kening.

Dari awal… Celestine sudah merencanakan semuanya.

Bahkan tanpa sekutu, ia berhasil bertahan hingga akhir.

Dan sekarang, ia menggulung mereka satu per satu.

---

Cedric mengetuk meja pelan.

"…Kita dalam masalah."

Julius menghela napas. "Aku tidak menyangka… dia bisa membaca kita sejak awal."

Ein menggertakkan giginya.

Celestine tidak hanya kuat, tapi juga sabar.

Saat Ein sibuk membantai para pemain lain…

Celestine hanya diam dan mengamati.

Ia membiarkan mereka saling menghancurkan, menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

Dan sekarang, saatnya telah tiba.

Dalam tiga giliran berturut-turut, Celestine menghancurkan strategi pertahanan mereka.

Ia memutus jalur suplai Ein.

Ia memanipulasi Cedric agar tidak bisa membantu.

Ia memancing Julius ke dalam jebakan yang tidak bisa ia hindari.

Dan akhirnya…

Celestine menang.

---

Semua orang terdiam.

Celestine hanya tersenyum tipis.

"Kau kuat, Ein," katanya. "Tapi kau terlalu fokus pada perang."

Ein mengepalkan tangan.

Ia membantai semua lawan terlalu cepat.

Ia tidak mempertimbangkan jangka panjang.

Dan Celestine?

Ia menunggu kelemahannya.

Seylia, yang mengamati dari jauh, hanya menyeringai.

"Hah… sepertinya bocah ini masih harus belajar banyak."

Ein akhirnya menghela napas dan menatap Celestine.

"…Kau menang."

Celestine menatapnya beberapa detik, lalu mengulurkan tangannya.

"Permainan yang bagus."

Ein terdiam sesaat, lalu menyambut uluran tangan itu.

Ia kalah.

Tapi ini bukan akhir.

Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

---

Setelah perjamuan berakhir, Ein kembali ke kediaman Venustia.

Namun, pikirannya masih dipenuhi kekalahan tadi.

Seylia tiba-tiba muncul di belakangnya dan menepuk bahunya.

"Kau masih memikirkan kekalahanmu?" tanyanya santai.

Ein tidak menjawab.

Seylia hanya tertawa kecil.

"Kau kuat, Ein. Tapi kekuatanmu belum lengkap."

Ia menatap Ein dengan serius.

"Mulai besok, kau akan berlatih sihir dan pedang."

Ein terkejut.

"Tunggu, kenapa?"

Seylia menyeringai.

"Karena kalau kau ingin bertahan di dunia ini… kau tidak boleh hanya mengandalkan otak."

"Kau juga butuh kekuatan."

---

Keesokan harinya, Ein berdiri di tengah lapangan pelatihan keluarga Venustia.

Dihadapannya berdiri dua sosok—

1. Herzain Al. Venustia – Ayah angkatnya, yang akan melatihnya dalam pedang.

2. Lilianes Al. Venustia – Ibu angkatnya, yang akan mengajarinya sihir.

Ein menelan ludah.

Ia tidak menyangka keduanya sendiri yang akan melatihnya.

Herzain tersenyum tipis.

"Kita mulai dengan dasar pedang."

Lilianes ikut berbicara.

"Dan setelah itu, kita akan menguji potensi sihirmu."

Ein menarik napas dalam.

Hari ini… babak baru dalam hidupnya dimulai.

-----

Ein berdiri di tengah lapangan pelatihan keluarga Venustia.

Dihadapannya, Herzain Al. Venustia, sang Marquis yang juga dikenal sebagai "Raja Pedang Venustia", menatapnya tajam.

Herzain menarik pedang kayu dan melemparnya ke arah Ein.

"Mulai sekarang, aku akan melihat apakah kau layak memegang pedang keluarga ini."

Ein menggenggam pedang kayu itu, merasakan bebannya yang asing di tangannya.

"Tunjukkan padaku… bagaimana nalurimu terhadap pedang."

Tanpa peringatan, Herzain bergerak.

Satu tebasan cepat.

Ein terkejut—serangannya begitu tajam!

Refleks, tubuhnya bergerak sendiri.

DUG!

Ia berhasil menangkis!

Herzain mengangkat alisnya.

"Oh? Kau bisa membaca gerakanku?"

Ein tidak menjawab, tapi ia merasa sesuatu dalam tubuhnya mulai bangkit.

Naluri…

Bukan sekadar teknik, tapi sesuatu yang lebih mendalam.

Herzain kembali menyerang, kali ini dengan serangan bertubi-tubi.

Dan Ein…

Menghindari semuanya.

---

Seylia yang menonton di sisi lapangan membelalakkan mata.

"Tidak mungkin… dia baru pertama kali pegang pedang, kan?"

Namun, yang lebih mengejutkan adalah ekspresi Herzain.

Sang Marquis tersenyum lebar.

"Kau memiliki bakat."

"Tidak… lebih dari itu. Kau memiliki naluri bertarung."

Ein yang masih terengah-engah mencoba memahami kata-kata ayahnya.

"Tapi… aku tidak pernah berlatih sebelumnya."

Herzain tertawa kecil.

"Bakat sejati adalah ketika tubuhmu bergerak tanpa kau sadari."

Ia menyarungkan pedangnya dan menepuk bahu Ein.

"Kau tidak butuh waktu lama untuk menjadi pendekar hebat."

---

Setelah pelatihan pedang, Ein dibawa ke sebuah ruangan dengan lingkaran sihir besar di tengahnya.

Di hadapannya, Lilianes Al. Venustia, ibu angkatnya, menatapnya lembut.

"Sekarang, kita akan mengukur potensimu dalam sihir."

Ia menjentikkan jari.

Lingkaran sihir mulai bersinar, menciptakan cahaya keemasan di sekitar Ein.

"Sihir berasal dari afinitas. Setiap orang memiliki elemen bawaan."

Ein mengangguk.

"Tutup matamu… dan biarkan sihir dalam dirimu mengalir."

Ein menarik napas dalam.

Lalu—

Cahaya mulai muncul.

----

Lilianes terdiam.

Seylia, yang ikut menyaksikan, membelalakkan mata.

Herzain, yang baru saja masuk, langsung terdiam.

Karena di sekitar Ein…

Terdapat bukan hanya satu… tapi EMPAT elemen bersinar sekaligus!

Api – Simbol kekuatan dan keberanian.

Angin – Simbol kecepatan dan kelincahan.

Petir – Simbol kehancuran dan insting tajam.

Cahaya – Simbol kebangsawanan dan kekuatan spiritual.

Seylia terkejut. "Empat afinitas sekaligus?! Itu…"

Lilianes menarik napas.

"Tidak ada yang pernah memiliki ini… kecuali para legenda."

Ein membuka matanya.

"…Apakah itu buruk?"

Lilianes tersenyum tipis.

"Tidak. Justru sebaliknya…"

Ia menatap Ein dengan penuh kebanggaan.

"Itu berarti kau memiliki potensi untuk menjadi penyihir terkuat dalam sejarah."

---

Hari itu, Ein menyadari dua hal penting.

1. Dia memiliki naluri pedang yang luar biasa.

2. Dia memiliki afinitas sihir yang langka dan luar biasa kuat.

Namun, di balik semua itu…

Jalan menuju kekuatan sejati masih panjang.

Dan ini baru permulaan.

-----

Tiga Tahun Kemudian…

Ein kini berdiri di balkon kediaman Venustia, menatap ibu kota kekaisaran yang terbentang luas.

Dulu, ia hanyalah seorang anak yang dijual sebagai budak…

Namun sekarang, ia adalah Ein Al. Venustia, putra angkat Marquis, pewaris kebangsawanan, dan murid berbakat di Akademi Helfioria.

Namun, ada satu hal lagi yang berubah.

Ia kini mulai memasuki dunia politik.

---

Seorang pelayan masuk ke ruangan, membawa sepucuk surat dengan lambang keluarga Regendorf.

Ein membukanya dan membaca isinya.

Celestine menulisnya sendiri:

> "Ein, Ayah ingin berbicara denganmu mengenai sesuatu yang penting. Aku harap kau bisa datang ke kediaman Regendorf hari ini. Kita juga bisa bertanding ulang dalam permainan strategi, kalau kau berani. – Celestine."

Ein menyeringai.

Celestine masih tidak berubah.

Namun, undangan dari Duke Regendorf bukan sesuatu yang bisa diabaikan.

---

Ketika Ein tiba di kediaman keluarga Regendorf, ia langsung disambut oleh Celestine.

Gadis berambut perak itu tersenyum tipis.

"Aku penasaran apakah kau akan datang atau tidak."

Ein mengangkat bahu. "Tentu saja aku datang. Jika Duke Regendorf ingin berbicara denganku, maka itu pasti penting."

Celestine hanya terkekeh, lalu membawanya masuk ke ruang pertemuan.

Di dalamnya, Duke Regendorf—salah satu bangsawan paling berpengaruh di kekaisaran—sudah menunggu.

Pria itu menatap Ein dengan tajam.

"Ein Al. Venustia… kau sudah mulai memasuki dunia politik, bukan?"

Ein tetap tenang.

"Benar."

Duke Regendorf menghela napas.

"Bagus. Karena ada sesuatu yang harus kau ketahui… tentang masa depan kekaisaran."

Ein menegang.

Celestine juga ikut diam, membiarkan ayahnya berbicara.

Dan saat Duke Regendorf mulai menjelaskan…

Ein menyadari bahwa permainan politik yang sesungguhnya baru saja dimulai.

------

Duke Regendorf menatap Ein dengan tajam, lalu berbicara dengan suara rendah.

"Aku tidak akan bertele-tele. Kekaisaran sedang berada di ambang perubahan besar."

Ein tetap tenang, menunggu kelanjutan penjelasan itu.

Duke Regendorf melanjutkan, "Para bangsawan tinggi mulai terpecah menjadi dua kubu. Yang pertama adalah mereka yang mendukung Kaisar dengan sepenuh hati. Yang kedua…"

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Adalah mereka yang mengincar perubahan… dan mungkin, kudeta."

Ein menyipitkan matanya.

"Dan di mana posisi keluarga Regendorf dalam hal ini?"

Duke Regendorf tersenyum samar.

"Tidak ada yang bisa bertahan sendirian dalam politik, Ein. Kami harus memilih pihak."

Celestine, yang duduk di samping ayahnya, akhirnya ikut berbicara.

"Kau juga, Ein. Dengan statusmu sebagai anak keluarga Venustia, kau akan terseret ke dalam arus ini cepat atau lambat."

Ein sudah menyadari hal itu sejak lama.

Namun, mendengar langsung dari salah satu Duke paling berpengaruh di kekaisaran membuat semuanya terasa lebih nyata.

---

Duke Regendorf menatap Ein dengan penuh arti.

"Aku ingin tahu… kau akan berdiri di pihak yang mana?"

Ein tidak langsung menjawab.

Ia menyadari bahwa jawabannya akan menentukan masa depannya.

Namun, sebelum ia sempat berbicara, Duke Regendorf menambahkan sesuatu.

"Aku tidak meminta jawaban sekarang. Tapi… aku ingin melihat bagaimana kau berpikir dan bertindak di situasi nyata."

Ein mengangguk. "Jadi, ini ujian?"

Duke Regendorf tersenyum tipis. "Anggap saja begitu."

Celestine menatap Ein dengan sedikit penasaran.

"Dan untuk itu, kami memiliki sebuah tugas politik untukmu."

Ein menegakkan tubuhnya.

"…Apa itu?"

Duke Regendorf akhirnya mengungkapkan tugasnya.

"Kami ingin kau mewakili keluarga Venustia dalam sebuah pertemuan diplomatik dengan kerajaan tetangga."

Ein mengangkat alis.

"Kerajaan mana?"

Celestine menjawab dengan suara tenang.

"Kerajaan Varelis."

Ein terdiam sejenak.

Kerajaan Varelis… adalah salah satu kerajaan yang terkenal sulit diajak negosiasi.

Dan sekarang, ia harus berhadapan dengan mereka dalam perundingan resmi?

Seylia akan tertawa terbahak-bahak kalau tahu ini.

Namun, Ein hanya tersenyum tipis.

"Menarik."

Duke Regendorf memperhatikan ekspresinya dengan puas.

"Kita akan melihat apakah kau benar-benar cocok untuk dunia ini, Ein Al. Venustia."

---

Permainan Politik yang Sesungguhnya Dimulai

Saat Ein meninggalkan kediaman Regendorf, ia mulai menyadari sesuatu.

Selama ini, ia hanya melihat politik dari luar.

Namun sekarang…

Ia telah menjadi pemain di dalamnya.

Dan seperti yang ia duga…

Ini akan menjadi permainan yang jauh lebih berbahaya dibandingkan sekadar permainan strategi di atas meja.

------

Di halaman utama kediaman Venustia, barisan pasukan elit Kekaisaran bersiaga dalam formasi sempurna.

Mereka adalah Knight of Imperial Crest, pasukan pengawal khusus yang hanya melindungi keluarga kekaisaran dan diplomat penting.

Di tengah kesibukan itu, Ein berdiri dengan seragam diplomatik resminya, memperhatikan para prajurit yang akan menemaninya.

"Cukup berlebihan untuk perjalanan diplomatik, bukan?"

Suara lembut yang familiar terdengar di belakangnya.

Ein menoleh dan melihat Chelcia El. Al. Grahameils, Putri Kekaisaran, yang kini tersenyum lembut ke arahnya.

Rambut pirangnya bersinar di bawah sinar matahari, dan gaun putih berhiaskan lambang kekaisaran membuatnya tampak benar-benar seperti seorang putri sejati.

Ein tersenyum tipis. "Tampaknya kekaisaran tidak ingin mengambil risiko."

Chelcia menatapnya dengan ekspresi sedikit khawatir.

"Varelis bukanlah kerajaan yang mudah dipahami. Mereka terkenal licik dalam negosiasi… dan lebih buruknya lagi, perjalanan ke sana penuh dengan bahaya."

Ein mengangguk. Ia sudah memperkirakan hal itu.

Namun, yang tidak ia perkirakan adalah kehadiran Chelcia dalam rombongan ini.

"Putri Kekaisaran ikut dalam perjalanan ini… aku tidak menduganya."

Chelcia terkekeh kecil. "Kakekku, Kaisar, berpikir bahwa kehadiranku bisa memperkuat posisi negosiasi kita."

Ein hanya bisa menghela napas dalam.

Jika ini adalah keputusan langsung dari Kaisar Grahameils, maka tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.

Namun, ini juga berarti mereka akan menjadi target utama dalam perjalanan ini.

---

Saat matahari mencapai puncaknya, rombongan duta besar Kekaisaran mulai bergerak.

Di depan, knight Kekaisaran membuka jalan.

Di tengah, Ein dan Chelcia berada di dalam kereta diplomatik khusus, yang dijaga ketat oleh para ksatria.

Di belakang, pasukan tambahan mengikuti untuk mengamankan perjalanan.

Perjalanan dari ibu kota menuju perbatasan Varelis akan memakan waktu tiga hari penuh.

Dan mereka semua tahu…

Bahaya bisa datang kapan saja.

---

Saat malam tiba, rombongan mendirikan kemah di hutan perbatasan Grahameils.

Ein duduk di depan api unggun, menatap peta wilayah yang mereka lewati.

Chelcia duduk di sampingnya, tangannya menggenggam secangkir teh hangat.

"Hm? Kau terlihat serius sekali, Ein."

Ein menoleh padanya dan menunjukkan titik yang ia lingkari di peta.

"Di daerah ini… pernah ada laporan tentang kelompok bandit bayaran yang menyerang konvoi diplomatik."

Chelcia mengernyit. "Jadi menurutmu, kita akan diserang?"

Ein menutup peta dan menatap api unggun dengan mata tajam.

"Bukan 'akan'. Aku yakin mereka sudah menunggu kita."

Chelcia terdiam sejenak.

Lalu, alih-alih terlihat takut, ia malah tersenyum kecil.

"Kalau begitu… aku penasaran bagaimana kau akan mengatasinya."

Ein tertawa pelan.

"Percayalah, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."

Malam itu…

Badai mendekat.

Dan Ein bersiap menghadapinya.

------

Malam di perbatasan Grahameils – Varelis terasa lebih dingin dari biasanya.

Angin berhembus pelan, membuat api unggun di kemah berkobar kecil, menari dalam keheningan.

Di kejauhan, hutan lebat membentang seperti raksasa yang mengintai, sementara suara burung malam dan serangga mengisi udara.

Namun… ada satu hal yang tidak biasa.

Suasana terlalu sunyi.

Bahkan suara hewan liar pun seakan menghilang.

Di dalam kemah utama, Ein duduk dengan tenang, membaca dokumen diplomatik yang diberikan oleh Kekaisaran.

Di sampingnya, Chelcia El. Al. Grahameils duduk sambil menikmati teh hangatnya.

Namun, Ein tiba-tiba menghentikan bacaannya.

Tangannya yang memegang cangkir sedikit mengencang.

Chelcia memperhatikan perubahan sikapnya.

"Ada apa, Ein?"

Ein mendiamkan diri sejenak, lalu perlahan menaruh dokumen di meja.

"…Sesuatu akan terjadi."

Chelcia mengerutkan kening. "Kenapa kau berpikir begitu?"

Ein mendengar keheningan di luar.

Sebagai seseorang yang dilatih dalam strategi dan analisis, ia tahu bahwa keheningan total di alam liar adalah pertanda bahaya.

Ia segera bangkit dari kursinya.

"Chelcia, tetaplah di dalam."

Chelcia hendak bertanya, tapi tatapan Ein penuh keyakinan.

Ia mengangguk pelan. "Baik."

Tanpa membuang waktu, Ein melangkah keluar dari kemah.

Dan saat itulah…

Kegelapan malam mulai bergerak.

---

Ketika Ein keluar dari kemah, beberapa ksatria kekaisaran sudah bersiaga.

Kapten pasukan, Derrick Velstane, langsung menghampiri Ein dengan ekspresi tegang.

"Tuan Ein… kami merasakan kehadiran asing di sekitar kemah."

Ein menatap ke arah pepohonan lebat di sekitar mereka.

Mata tajamnya menangkap sesuatu yang bergerak di dalam bayangan.

Mereka dikepung.

Dan sebelum sempat memberikan perintah…

Serangan pertama terjadi.

Tssst! Sreett!

Puluhan panah beracun melesat dari balik pepohonan!

"PERLINDUNGAN!!" seru Derrick.

Ksatria-ksatria elit langsung mengangkat perisai, melindungi para diplomat dan pasukan lainnya.

Namun, beberapa ksatria yang kurang beruntung terkena panah dan langsung roboh.

Ein bergerak cepat, menarik pedang pendeknya dan menghindari satu panah yang nyaris mengenainya.

Matanya berkilat tajam.

Ini bukan sekadar serangan biasa.

Mereka adalah pembunuh terlatih.

---

Dari balik pepohonan, bayangan-bayangan hitam bermunculan.

Mereka mengenakan pakaian serba gelap, tanpa lambang atau identitas.

Namun, cara mereka bergerak terlalu teratur untuk disebut bandit biasa.

Ein menghela napas dalam.

"Jadi… ini adalah penyambutan dari Kerajaan Varelis?"

Salah satu dari mereka maju, seorang pria tinggi dengan topeng setengah wajah dan pedang panjang berwarna hitam.

Suara beratnya terdengar di tengah kegelapan.

"Kami tidak memiliki hubungan dengan Varelis."

Ein memperhatikan gerak-gerik pria itu.

"Jadi, siapa kalian?"

Pria itu menyeringai.

"Kami hanyalah bayangan yang bergerak di antara kekuasaan."

Seolah memberi perintah diam-diam, puluhan pembunuh lainnya langsung menyerang!

Dan pertarungan dimulai.

---

Ksatria Kekaisaran melawan habis-habisan, tapi musuh sangat terlatih.

Setiap serangan mereka tepat dan mematikan.

Namun, Ein bukanlah orang yang bisa diremehkan.

Dalam sekejap, pedangnya berkilat.

Sreett!

Satu musuh roboh dengan leher terpotong.

Dua lainnya berusaha menyerang dari belakang…

Namun, Ein sudah memprediksi gerakan mereka.

Ia berputar cepat, menusukkan pedangnya ke perut salah satu pembunuh.

Yang satu lagi berhasil ditebas oleh Derrick.

Chelcia, yang masih berada di dalam kemah, mendengar suara pertempuran di luar.

Ia menggigit bibirnya, tangannya mengepal.

"…Aku tidak bisa hanya diam."

Ia menarik napas dalam, lalu mengaktifkan sihirnya.

Kilauan cahaya muncul dari tangannya.

Chelcia mungkin seorang putri, tetapi ia juga seorang penyihir berbakat.

---

Saat Chelcia keluar dari kemah, beberapa pembunuh mencoba menerobos.

Namun, dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan ledakan cahaya terang.

BOOM!

Beberapa pembunuh terpental ke belakang, menjerit karena silau.

Ein menoleh dan tersenyum kecil.

"Aku bilang tetap di dalam."

Chelcia hanya tersenyum. "Dan membiarkan kalian mati? Tidak, terima kasih."

Namun, saat mereka mulai berpikir bisa mengendalikan situasi…

Sebuah suara berkumandang di hutan.

"…Sepertinya mereka lebih kuat dari yang kuduga."

Dari dalam bayangan, sosok lain muncul.

Ia mengenakan jubah hitam dengan lambang ular perak di dadanya.

Dan saat Ein melihatnya, ia langsung tahu…

Mereka berhadapan dengan musuh yang jauh lebih berbahaya.

---

Ein mengeraskan rahangnya.

Orang ini… bukan musuh biasa.

Matanya berkilat tajam.

"Siapa kau?"

Pria berjubah itu tersenyum.

"Kau akan tahu… jika kau berhasil bertahan hidup."

Dan seketika…

Angin di sekitar mereka berubah.

Pertarungan sebenarnya baru saja dimulai.

----

— To be continued