Cherreads

Chapter 3 - Bab 2 – Langkah Awal

Sasha menyesap kopi di tangannya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil setelah pertemuannya dengan Revan Arkana Pradipta.

Hari pertama sebagai sekretaris bos besar itu berjalan lebih baik dari yang ia kira. Tidak ada pertanyaan mencurigakan, tidak ada tanda-tanda bahwa pria itu meragukannya. Malah, Revan terlihat tidak terlalu peduli.

Itu bagus.

Sasha tidak butuh perhatian dari pria itu. Ia hanya butuh cukup waktu untuk mencari kelemahannya.

"Jadi, bagaimana rasanya bekerja di bawah CEO paling dingin se-Jakarta?"

Sasha menoleh dan mendapati Alya, salah satu sekretaris senior, sedang tersenyum sambil meletakkan tumpukan berkas di meja.

"Dingin banget," jawab Sasha santai, lalu menyesap kopinya lagi. "Aku bahkan gak yakin dia sadar kalau aku ada di sana."

Alya tertawa kecil. "Revan memang begitu. Dulu, ada sekretaris yang bekerja di sini selama enam bulan, tapi dia bahkan gak pernah diajak ngobrol lebih dari lima menit. Orangnya kerja keras, tapi gak punya kehidupan sosial."

Sasha menyimpan informasi itu baik-baik.

Revan bukan hanya dingin, tapi juga tertutup. Itu bisa menjadi keuntungan atau malah hambatan baginya.

"Dia benar-benar segitu tertutupnya?" Sasha berpura-pura penasaran.

Alya mengangguk. "Bahkan sebelum istrinya meninggal, dia memang bukan tipe yang suka berbasa-basi. Tapi setelah Nayla pergi, dia jadi makin sulit didekati."

Nayla lagi.

Nama itu terus muncul di mana-mana.

Sasha tahu kisahnya. Semua orang tahu. Nayla Astari adalah istri kesayangan Revan, seorang wanita cantik dan lembut yang konon bisa membuat pria sekeras batu seperti Revan tersenyum.

Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.

Nayla meninggal dalam kecelakaan tragis lima tahun lalu. Mobil yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah truk di jalan tol. Yang membuat tragedi ini semakin buruk, truk itu milik perusahaan keluarga Sasha.

Dan sejak saat itu, keluarga Sasha hancur.

Perusahaan mereka terseret dalam kasus hukum yang tidak ada habisnya. Bisnis yang sudah dibangun selama puluhan tahun runtuh dalam waktu singkat. Ayah Sasha jatuh sakit karena tekanan mental, dan ibunya tidak pernah lagi tersenyum seperti dulu.

Semua itu karena Revan Arkana Pradipta.

Pria itu menggunakan pengaruhnya untuk menghancurkan keluarga Sasha sebagai bentuk balas dendam atas kematian istrinya.

Dan sekarang, Sasha ada di sini, duduk di dalam kantor pria itu, menyusup ke dalam hidupnya.

Tinggal menunggu waktu sebelum ia membalas semua penderitaan yang ia alami.

Pekerjaan sebagai sekretaris Revan ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Sejak pagi, Sasha sudah berkutat dengan puluhan email yang harus difilter, dokumen yang perlu ditandatangani, dan jadwal meeting yang padat.

Revan hampir tidak berbicara dengannya. Pria itu hanya sesekali memberikan instruksi singkat, lebih banyak menghabiskan waktu dengan meneliti dokumen atau berbicara dengan klien melalui telepon.

Tapi Sasha memperhatikan segala hal.

Bagaimana pria itu selalu duduk dengan postur sempurna, bagaimana ia jarang menunjukkan ekspresi, dan bagaimana setiap orang di kantor terlihat takut untuk berbicara dengannya.

Namun, ada satu hal yang menarik perhatiannya.

Revan selalu menyisihkan waktu di sore hari.

Saat jam menunjukkan pukul tiga tepat, pria itu menutup laptopnya, berdiri, dan mengambil jasnya.

Sasha mengernyit. "Pak, Anda ada pertemuan?"

Revan hanya menatapnya sebentar, lalu berkata singkat, "Aku akan pergi. Jangan ganggu."

Lalu, pria itu pergi begitu saja.

Sasha menatap punggungnya dengan penuh tanda tanya.

Ke mana pria itu pergi?

Rasa penasaran Sasha akhirnya membawanya ke luar kantor.

Ia melihat dari kejauhan saat Revan masuk ke dalam mobil hitamnya dan pergi. Dengan cepat, ia memanggil ojek online dan meminta pengemudinya mengikuti mobil itu dari kejauhan.

"Jangan terlalu dekat, Mas. Cukup ikuti mobil hitam itu."

Pengemudi ojek itu mengangguk. "Baik, Mbak."

Mobil Revan melaju melewati jalanan Jakarta yang padat, sebelum akhirnya berhenti di sebuah sekolah internasional.

Sasha mengerutkan kening.

Sekolah?

Ia menyaksikan dari kejauhan saat Revan keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah.

Tidak butuh waktu lama sebelum ia melihat seorang anak kecil berlari ke arahnya.

Davin.

Sasha menahan napas.

Jadi ini alasan Revan selalu pergi di sore hari. Dia menjemput anaknya sendiri.

Untuk seseorang yang tidak menunjukkan emosi, Revan tampak sedikit lebih santai saat berbicara dengan Davin. Ia menunduk sedikit, mendengarkan bocah itu berbicara, sebelum akhirnya mengusap kepalanya dengan lembut.

Pemandangan itu… aneh.

Seorang pria dingin dan tanpa perasaan ternyata punya sisi lembut juga.

Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia telah menghancurkan hidup Sasha.

Malam harinya, Sasha masih memikirkan apa yang ia lihat di sekolah tadi.

Revan Arkana Pradipta. Seorang pria tanpa ekspresi, yang ternyata tetap berusaha menjadi seorang ayah yang baik.

Sasha menggigit bibirnya.

Ia tidak boleh terpengaruh. Dendam ini harus tetap menjadi prioritasnya.

Tapi satu pertanyaan besar muncul di benaknya.

Bagaimana jika kecelakaan lima tahun lalu itu bukan sepenuhnya salah keluarga Sasha?

Karena semakin ia menggali informasi, semakin ia menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal.

Seseorang bermain di balik layar.

Dan Sasha harus menemukan kebenarannya.

****

Gimana part ini?

Jangan lupa vote komen yaa

More Chapters