Dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri.
Sasha Arundaya menatap pintu besar berwarna hitam pekat di hadapannya. Sebuah pintu yang akan membawanya ke dalam kehidupan pria yang selama ini ia benci. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, berusaha meredam getaran kecil yang mungkin muncul karena gugup—atau karena terlalu bersemangat.
Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris pribadi Revan Arkana Pradipta. CEO Pradipta Corporation yang terkenal dingin, tanpa belas kasihan, dan—yang paling penting—pria yang bertanggung jawab atas kehancuran keluarganya.
Sasha menarik napas panjang. Ia sudah menyiapkan segalanya. Rencana, ekspresi, bahkan nada suara yang akan ia gunakan. Tidak boleh ada celah. Ini adalah langkah pertamanya.
"Pak Revan, sekretaris baru Anda sudah datang," suara sekretaris senior di sampingnya terdengar saat ia mengetuk pintu dan membukanya sedikit.
Tak ada jawaban.
Hanya suara kertas yang dibolak-balik dan ketikan cepat di keyboard. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh ritme kerja pria di dalam sana.
Sekretaris senior menoleh padanya dan mengangguk kecil. "Silakan masuk."
Sasha mengatur ekspresinya, lalu melangkah masuk. Begitu pintu tertutup di belakangnya, matanya langsung tertuju pada pria di balik meja besar.
Revan Arkana Pradipta.
Pria itu bahkan tidak mengangkat wajahnya. Duduk dengan jas hitam yang terpasang sempurna, wajahnya dipenuhi ketegasan dan aura dingin yang membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum berbicara dengannya. Tatapan matanya tetap tertuju pada dokumen di tangannya, seolah keberadaan Sasha tak lebih dari angin lalu.
Dingin. Tak peduli. Seakan dirinya tidak lebih penting dari udara di ruangan itu.
Sempurna.
Pria ini akan menjadi target yang mudah untuk ia hancurkan.
"Duduk."
Suara bariton pria itu terdengar dalam, tegas, tanpa emosi.
Sasha mengatur napas, lalu melangkah ke kursi di depannya. Namun sebelum ia duduk, tatapannya menangkap sesuatu.
Di sudut meja pria itu, ada sebuah bingkai foto. Wajah seorang wanita yang tersenyum lembut, dengan mata penuh cinta yang menatap ke arah kamera.
Sasha tahu siapa wanita itu.
Nayla Astari.
Istri Revan Arkana Pradipta.
Atau lebih tepatnya, mantan istrinya yang sudah meninggal.
Sasha tidak bisa menahan rasa geli yang muncul dalam hatinya. Sudah bertahun-tahun sejak wanita itu meninggal, tapi Revan masih menyimpan fotonya di mejanya? Apakah pria ini masih terjebak dalam masa lalu?
Bagus. Itu hanya akan membuatnya lebih mudah untuk dihancurkan.
"Duduk," ulang Revan, kali ini dengan nada sedikit lebih dalam.
Sasha mengangkat dagunya sedikit dan duduk dengan percaya diri. Ia harus terlihat profesional. Tidak boleh ada jejak emosi di wajahnya.
Lalu, untuk pertama kalinya, Revan mengangkat wajahnya.
Sasha membeku.
Tatapan mata itu… kosong.
Bukan hanya dingin, tapi benar-benar kosong. Seolah pria ini telah kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kembali.
Sekilas, ia melihat jari manis pria itu. Kosong. Tak ada cincin.
Tentu saja. Istrinya sudah mati.
Untuk sesaat, Sasha merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Bukan rasa iba, tentu saja, tapi lebih ke… kejutan.
Ia mengira akan bertemu dengan pria yang penuh kesombongan dan kebengisan. Tapi pria yang duduk di hadapannya ini—meskipun terlihat kuat—memancarkan kesan seolah dunia ini tidak lagi berarti baginya.
Tidak, Sasha. Jangan terpengaruh.
Ia menguatkan dirinya.
Ini adalah pria yang telah menghancurkan keluarganya.
Pria yang harus ia hancurkan kembali.
"Sasha Arundaya," katanya, memastikan suaranya terdengar percaya diri. "Mulai hari ini, saya sekretaris Anda."
Revan menatapnya selama beberapa detik, lalu bersandar ke kursinya. "Kau diterima karena rekomendasi tinggi," katanya pelan. "Tapi aku tidak percaya rekomendasi."
Sasha tersenyum tipis. "Saya tidak butuh kepercayaan Anda, Pak. Saya hanya butuh Anda memberi saya kesempatan untuk bekerja."
Ada sesuatu yang berubah di tatapan Revan. Bukan kemarahan, bukan ketidaksukaan—lebih ke ketertarikan yang samar. Seolah ia menemukan sesuatu yang tidak ia duga dalam diri Sasha.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu, tanpa ekspresi, Revan meletakkan dokumen di tangannya dan berkata,
"Baik. Mulai sekarang, kau bekerja di bawahku."
Sasha menahan senyum kemenangannya.
Langkah pertama: berhasil.
---
Namun, bahkan sebelum ia bisa menikmati kemenangannya, suara pintu terbuka tiba-tiba terdengar.
Sasha menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berdiri di ambang pintu.
Usianya sekitar enam atau tujuh tahun, dengan rambut hitam legam dan mata gelap yang sangat mirip dengan Revan. Wajahnya terlihat serius, jauh lebih dewasa daripada anak-anak seusianya.
Anak itu berjalan masuk tanpa ragu dan langsung menghampiri Revan. "Papa, aku mau pulang."
Papa?
Sasha membelalakkan mata. Ia tahu Revan adalah duda, tapi ia tidak tahu pria itu memiliki anak!
Revan menghela napas, lalu menoleh ke Sasha. "Ini Davin."
Anak itu menatapnya tanpa ekspresi. "Siapa dia?"
Sasha mengerjap. "Saya—"
"Sasha Arundaya," Revan memotong. "Sekretaris baru Papa."
Davin tetap diam. Tatapannya menelusuri Sasha dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum akhirnya berkata dengan suara kecil tapi tegas, "Aku nggak suka dia."
Sasha menahan diri untuk tidak mengangkat alis. Baiklah. Sepertinya ia punya dua tantangan sekarang.
Menghancurkan sang ayah.
Dan…
Membuat anaknya menyukainya.