— Bayangan di Balik Data
Kantor baru mereka berada di lantai atas sebuah menara kaca yang menghadap langsung ke jantung Kota Zherion. Di siang hari, cahaya matahari masuk dari segala arah, memantul di dinding transparan dan permukaan logam, menciptakan efek kilau yang dingin namun elegan. Teknologi tercanggih ada di sini—papan kendali sentuh di udara, sistem keamanan yang diawasi oleh drone, hingga lift dengan suara asisten AI yang bahkan bisa mengenali mood penggunanya.
Namun, di balik semua itu, Ezora merasa ada yang hilang.
Ia berjalan menyusuri lorong panjang, melewati ruang-ruang konferensi yang tertutup kaca bening. Dulu mereka hanya punya satu ruangan kecil yang sempit dan berantakan, tapi penuh tawa dan kebisingan. Di sini… semuanya terlalu rapi. Terlalu steril. Seperti laboratorium masa depan yang tidak punya ruang untuk kesalahan—atau kenangan.
Hari itu, setelah pulang sekolah, Ezora memilih untuk tidak langsung menuju kantor. Ia menyusuri jalan kecil yang membelah antara dua gedung tua di distrik belakang kota. Jalur ini bukan jalur utama. Sepi, gelap, dan sedikit menyeramkan bagi kebanyakan orang. Tapi bagi Ezora, sepi justru memberi ruang untuk berpikir.
Langit mendung. Hujan turun rintik-rintik.
Lampu jalan di gang itu berkedip-kedip, seakan kelelahan menjaga cahaya. Suara langkahnya memantul pelan di antara tembok. Dan di sanalah ia melihatnya—seorang pria tua duduk bersandar di bawah tenda plastik lusuh, hampir menyatu dengan bayangan.
Bajunya compang-camping, rambutnya putih kusut. Tapi ketika mata mereka bertemu, pria itu langsung tersentak. Ia memandangi Ezora seperti baru melihat sesuatu yang hilang sejak lama.
"Matamu…" bisiknya.
Ezora menghentikan langkah.
"Tatapan itu… itu milik sang putri… kau kembali…"
"Maaf…?" ucap Ezora pelan, merasa tidak enak, tapi juga waspada.
Pria itu berdiri dengan goyah, lalu menyentuh tangan Ezora.
Begitu kulit mereka bersentuhan, dunia seperti runtuh.
Cahaya lampu padam. Hujan berhenti. Suara sirene di kejauhan pun lenyap. Semuanya menjadi diam dan beku—seolah waktu sendiri berhenti berputar. Mata Ezora terbuka lebar saat pemandangan-pemandangan asing memenuhi pikirannya.
Kilatan demi kilatan—fragmen ingatan pria tua itu mengalir ke dalam dirinya. Ia melihat ruangan putih dengan layar kode, eksperimen rahasia, rapat-rapat pemerintah. Ia adalah ilmuwan dulu—seorang peneliti realitas yang menemukan sesuatu yang tak seharusnya ada: struktur data tersembunyi di bawah dunia nyata. Seperti... dunia ini bukan sepenuhnya nyata, melainkan terbungkus oleh simulasi. Saat ia mencoba mengungkapnya, ia dipecat, disingkirkan, dan dihapus dari catatan publik. Ia menjadi 'orang yang tidak ada'.
Lalu semua kembali normal.
Cahaya menyala. Hujan kembali turun. Suara kota terdengar lagi.
Pria itu mundur perlahan, napasnya berat.
"Pandora… akhirnya terbuka lagi…" bisiknya tak percaya.
Tubuhnya mulai hilang. Bukan lenyap karena luka atau kelelahan. Tapi benar-benar… menghilang. Seperti file digital yang dihapus secara perlahan dari layar komputer. Tangannya memudar. Kakinya lenyap. Dan akhirnya… dia tidak ada lagi.
Ezora terdiam. Tubuhnya gemetar, dan dunia terasa berputar. Lalu semuanya menjadi gelap.
***
Ketika ia membuka matanya lagi, ia sudah berada di sofa ruang utama kantor baru mereka. Atap tinggi dan dinding kaca terlihat familiar, tapi terasa jauh. Cahaya sore mengintip dari celah tirai otomatis.
Light duduk di sampingnya, menatap penuh kekhawatiran.
"Sudah bangun," ucapnya.
Ezora mengedipkan matanya. Kepalanya berat.
"Ada seseorang yang melihatmu pingsan di jalan dan membawamu ke sini. Kamu nggak apa-apa, Ezora?" tanyanya lembut.
Ezora mencoba duduk. "Aku... aku ketemu orang aneh."
"Orang aneh?"
"Seorang pria tua. Dia bilang... mataku milik seorang putri. Dia menyebut nama 'Pandora'. Dan… saat dia menyentuhku, aku melihat hidupnya. Seperti... aku masuk ke dalam ingatannya."
Light tampak serius mendengarnya. Namun sebelum ia sempat menjawab, suara lembut namun datar terdengar dari speaker di dinding.
"Selamat datang kembali, Ezora."Itu suara Erro.
Ia muncul di layar besar, duduk seperti biasa dengan wajah imutnya. Tapi ekspresinya tampak lebih tenang… dan anehnya, lebih dalam. Tidak sekadar responsif, tapi seolah benar-benar mengerti sesuatu.
"Tatapan Pandora telah aktif, kebenaran akan segera terlihat" lanjut Erro dengan nada misterius.
Ruangan mendadak sunyi.
"Apa maksudmu, Erro?" tanya Magi yang baru masuk dari ruang sebelah, membawa tablet di tangannya.
Erro menoleh ke arah Magi. "Menurut arsip sistem tua yang berhasil kuakses dari jaringan yang sudah lama tidak aktif, Pandora adalah istilah kuno yang hanya muncul dalam catatan rahasia milik pemerintahan lama. Nama itu... sudah tidak digunakan sejak 23 tahun lalu."
"Dan sekarang kamu menyebutkannya," kata Light pelan. "Setelah Ezora pingsan karena seseorang menyebut nama itu juga."
Ezora merasa ada yang aneh dikepalanya. Ia menyentuh mata kanannya. Tidak ada yang berubah secara fisik. Tapi di dalam... ia tahu ada sesuatu yang telah bergerak. Seolah jendela kecil telah terbuka, dan dunia yang ia kenal kini tampak... tidak sepenuhnya nyata.
Erro kembali berbicara, suaranya pelan dan tenang.
"Sistem mendeteksi lonjakan frekuensi energi yang tidak biasa di tubuh Ezora. Itu bukan data biologis biasa. Itu... seperti sinyal aktif. Sinyal milik 'Pandora'."
"Apakah itu... virus?" tanya Luna yang kini berdiri di pintu, diam-diam mendengarkan sejak tadi.
Erro menggeleng. "Bukan virus. Lebih seperti... protokol tersembunyi yang tertanam sejak lahir. Sesuatu yang tidak ditulis oleh manusia."
Ezora menarik napas panjang. Ia menatap layar tempat Erro duduk—tersenyum manis, seperti biasa, namun kali ini... matanya seperti tahu lebih banyak dari siapa pun di ruangan itu.
"Erro," katanya, suara Ezora gemetar. "Apa maksudmu dengan… kebenaran akan segera terlihat?"
Erro menatap langsung ke mata Ezora.
"Karena kebenaran... bukan sesuatu yang harus ditemukan. Tapi sesuatu yang sudah ada. Hanya saja... belum dilihat dengan benar."
Dan untuk pertama kalinya, semua yang ada di ruangan itu… tidak tahu harus bicara apa.