Cherreads

Chapter 3 - Bab 3

—Suara dari Laut Dalam

Sejak kejadian di gang itu, hari-hari Ezora tidak lagi sama.

Setiap malam, ia memimpikan hal yang tak bisa ia jelaskan—lautan hitam yang bergolak, suara-suara aneh yang berbisik dalam bahasa asing, dan sesosok bayangan raksasa yang mengambang di dasar laut, menatapnya dengan mata kosong yang menyala merah. Ia terbangun dengan tubuh basah oleh keringat, jantung berdegup cepat, dan kepala berdengung seolah ada seseorang yang terus memanggilnya dari tempat jauh.

Dan setiap kali ia terjaga, suara yang sama selalu kembali menggema di pikirannya:

"Bukalah matamu… karena putri kegelapan telah bangkit…"

Ezora mencoba mengabaikannya. Tapi semakin ia mencoba, semakin jelas suara itu terdengar. Seolah-olah bukan hanya suara dalam mimpi—tapi panggilan langsung ke dalam jiwanya.

Ia mulai mencatat mimpi-mimpi itu. Garis besar bentuk makhluk dalam bayangannya. Simbol aneh yang muncul di antara gelembung laut. Semuanya ia gambar di buku sketsanya. Ia tahu ini bukan mimpi biasa. Ada sesuatu—sesuatu yang nyata—yang sedang mendekat.

Suatu sore, Magi menemuinya di ruang observasi sambil membawa tablet hologram dan ekspresi yang tidak seperti biasanya.

"Aku temukan sinyal aneh," katanya singkat.

Ezora menatap layar. Di sana terlihat gelombang biru bergetar perlahan, ritmenya menyerupai… detak jantung.

"Frekuensinya nggak biasa. Polanya… hampir mirip dengan kode panggilan darurat, tapi nggak sesuai dengan teknologi manapun yang kita kenal. Dan yang lebih aneh lagi—ini berasal dari kedalaman laut. Sangat dalam. Titik ini... seharusnya tempat mati. Tapi sekarang tidak."

Ezora membisu. Pandangannya tertarik pada pola sinyal itu. Aneh, tapi entah bagaimana terasa familiar.

"Ada aktivitas anomali juga di sistem Erro," lanjut Magi. "Dia secara otomatis memindai jaringan bawah laut setelah kamu mengalami pingsan itu. Dan… dia menemukan ini."

Tiba-tiba layar besar di ruang observasi menyala. Wajah imut Erro muncul, kali ini tanpa ekspresi ceria yang biasanya ia tampilkan.

"Ezora," katanya dengan suara lebih dalam dari biasanya. "Data dari kedalaman menunjukkan pola yang cocok dengan salah satu artefak tua yang ditemukan di reruntuhan laut Zona-9. Artefak itu mencatat satu nama: Erura."

"Erura?" Light, yang baru masuk ke ruangan, langsung menanggapi.

Erro mengangguk pelan. "Erura bukan AI. Bukan teknologi. Tapi sesuatu yang lebih tua dari peradaban kita. Sebuah entitas yang pernah disegel ribuan tahun lalu… di kedalaman laut."

Suasana menjadi tegang.

Asharu bersiul pendek. "Sounds like a monster movie. Tapi sayangnya, kita hidup di dunia nyata."

"Atau mungkin kita nggak pernah benar-benar tahu mana yang nyata dan mana yang tidak," ucap Luna sambil masuk dengan sebuah berkas di tangannya.

Ia meletakkannya di meja. Di dalamnya adalah cetakan pindaian artefak tua dari Zona-9. Salah satu ukiran berbentuk mata bersinar dan sosok bersayap hitam, berdiri di atas reruntuhan kota. Tulisan kuno di bawahnya… tidak bisa diterjemahkan penuh, tapi ada satu frasa yang muncul di beberapa tempat:

"Putri kegelapan."

Ezora menatap gambar itu lama. Keringat dingin merambat di punggungnya. Ia tahu simbol itu. Ia pernah menggambarnya di bukunya. Persis.

Light mengambil alih pembicaraan. "Kita akan turun ke lokasi sinyal. Pakai kapal selam penelitian baru yang dibangun Magi. Ezora, kamu ikut."

"Apa?" Magi menoleh tajam. "Kamu yakin? Setelah yang terjadi terakhir kali?"

Light mengangguk. "Justru karena itu. Ada sesuatu yang terhubung dengan Ezora. Dan kita butuh dia kalau ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi."

***

Tiga hari kemudian, mereka sudah berada di tengah samudera, di atas kapal penelitian milik tim kecil itu. Langit mendung. Angin berhembus pelan tapi membawa tekanan.

Kapal selam berteknologi tinggi itu berada di dalam ruang peluncuran. Bentuknya ramping, berwarna hitam mengilap, dilengkapi dengan pelindung sonar dan sayap lipat untuk manuver di tekanan ekstrem. Di dalamnya, Ezora duduk berdampingan dengan Asharu dan Luna, sementara Magi mengawasi sistem dan Light menjadi kapten misi.

Begitu mereka turun ke kedalaman, dunia di luar menjadi gelap.

"Kita sekarang di 4000 meter," lapor Magi. "Kondisi stabil. Sinyal mulai menguat."

Ezora menatap kaca depan kapal selam. Tidak ada apa-apa di luar sana selain kegelapan pekat. Tapi di balik kegelapan itu… ia merasakan sesuatu.

Tiba-tiba, bisikan itu kembali.

"Bukalah matamu… karena putri kegelapan telah bangkit…"

Ezora terlonjak. Tangannya mencengkeram kursi.

"Ada apa?" tanya Asharu cepat.

Ezora menelan ludah. "Dia… dia memanggilku."

"Erura?" bisik Luna.

Ezora mengangguk perlahan.

Tepat saat itu, sinyal sonar kapal mendeteksi sesuatu.

"Ada objek besar di bawah kita," ucap Magi dengan suara tegang. "Jarak 200 meter… ukurannya... lebih besar dari kapal induk."

Mereka semua menatap ke layar. Perlahan, bayangan besar mulai terlihat dari kegelapan. Sebuah bentuk—mirip tubuh makhluk hidup, tapi bukan ikan. Terlalu besar. Terlalu… simetris.

"Itu bukan bangkai kapal…" gumam Light. "Itu… bentuknya organik."

Dan tepat di saat itulah, mata makhluk itu terbuka. Sepasang cahaya merah bersinar tajam, menembus air, menembus kaca kapal, dan… menatap langsung ke arah Ezora.

Ezora tak bisa bergerak. Matanya terkunci.

Di kepalanya, suara itu semakin kuat:

"Waktumu telah tiba, pewaris mataku. Pandora telah terbuka. Dan Erura akan bangkit."

More Chapters