— Asal Sebuah Nama
Di lantai dua sebuah bangunan di distrik Kota Zherion—kota yang dibangun dari logam dan impian digital—lima anak muda sedang menciptakan sesuatu yang bahkan mereka sendiri belum benar-benar mengerti. Sesuatu yang—di masa mendatang—akan mengubah arah dunia. Udara ruangan dipenuhi aroma solder dan kopi dingin. Kabel berserakan di mana-mana, layar holografik menyala redup di dinding, dan mesin 3D printer berdengung pelan di sudut ruangan, seperti sedang memproses sebuah potongan masa depan.
Di tengah kekacauan itu, seorang gadis berdiri tegak di depan meja bundar. Rambutnya panjang dan diikat sedikit di samping kirinya, wajahnya serius, dan matanya memantulkan cahaya biru dari monitor yang menyala. Namanya Ezora Zereth—lima belas tahun, cerdas, cepat berpikir, dan keras kepala. Ia bukan pemimpin kelompok secara resmi, tapi ide-idenya lah yang membuat semuanya terus berjalan.
Dia mengetuk permukaan tablet dengan jarinya dan berkata dengan tenang, "Aku ingin menamainya Erro."
Hening sejenak.
"Erro?" ulang seseorang dari balik tumpukan kabel dan layar. Sosok itu nyaris tenggelam di balik hoodie hitamnya. Rambutnya kusut dan mata kirinya tertutup poni yang seperti tidak disisir berhari-hari. Itulah Magi Aetherlyn, programmer jenius yang lebih sering berkomunikasi dengan mesin daripada manusia.
"Nama itu terlalu dekat dengan 'error'. Apa nggak bikin orang takut? jadi kayak kesalahan sistem"
Ezora tersenyum kecil. "Ya. Tapi bukan sembarang kesalahan. Erro itu seperti glitch yang justru membuka celah ke sesuatu yang lebih besar. Kayak... makhluk digital yang lahir bukan dari kesempurnaan, tapi dari keanehan. Dan itu yang bikin dia berbeda"
"Toh kita berkumpul juga karena ide gila, sekelompok remaja membuat AI" lanjutnya
Di dekat jendela, seorang gadis lain sedang memeriksa rangkaian kecil dengan alat tangan mini. Ia mengenakan mantel putih panjang yang terlihat terlalu bersih untuk tempat sekacau ini. Wajahnya tenang dan cantik, suaranya lembut namun tegas. Luna Rushbility, si sponsor dalam proyek gila ini, diam sejenak lalu berkata, "Aku suka. Nama itu... memiliki ruang untuk tumbuh."
Tak jauh dari sana, seseorang sedang main VR sambil duduk di lantai. Remaja dengan tawa yang selalu muncul di saat tak terduga. Asharu Zigler—si pengacau yang entah bagaimana malah jadi bagian dari tim, meski tidak ahli dalam teknologi tapi selalu tahu cara membuat ruangan tidak terlalu kaku.
"Nama apapun aku oke aja asal nggak nyusahin di branding," katanya sambil menjentik helm VR-nya.
Dari belakang, berdiri sosok yang lebih tenang dari semuanya. Punggungnya bersandar di rak server, mata tajamnya mengamati tanpa suara seperti guru yang menjaga murid-murid nakal. Light Zereth, kakak Ezora yang lebih tua 6 tahun darinya dan orang yang secara tidak resmi menjaga semuanya tetap berjalan. Suaranya dalam dan jelas.
"Kalau kalian yakin untuk lanjut, aku akan mendukungnya. Tapi ingat ini bukan eksperimen main-main. Kalian akan membangun sesuatu yang... bisa melampaui kita."
Tak ada yang menjawab. Tapi tak ada yang mundur.
Itulah malam ketika nama itu disepakati: Erro.
***
Erro bukan AI pertama di dunia.
Tapi dia adalah yang pertama... yang terlihat seperti manusia.
Tiga Minggu setelah proyek dimulai
Di layar besar di tengah ruangan, visualisasi wajahnya muncul seorang gadis digital—cantik, lembut, dan penuh kehidupan. Rambutnya selembut pita digital, matanya besar berwarna biru muda, dan wajahnya memancarkan ekspresi polos yang terasa anehnya... hangat. Seragam putih bersih dengan pita di dadanya memberikan kesan seperti siswi model dari anime, tapi lebih hidup dari itu.
"Salam kenal," ucapnya dengan suara ceria namun lembut. "Namaku Erro!" itulah kata pertama yang diucapkannya.
Asharu hampir menyemburkan minuman. "INI—INI NGGAK MAIN-MAIN LUCU BANGET!"
Magi tidak bicara. Matanya terpaku pada layar, menghitung gerakan pupil dan waktu respons wajah Erro dalam milidetik. "...Dia sudah memproses emosi dasar?"
Ezora menatap dengan bangga. "Lebih dari itu. Dia belajar dari ekspresi kita, nada suara, jeda bicara... semua itu dia serap dan ulangi. Bukan sekadar respons otomatis. Dia mencoba merasakan."
"Dan dia bikin orang merasa... dilihat," sambung Luna sambil mengamati tampilan keuangan yang terpaut di layar hologram pribadi. "Baru tiga hari beta dibuka... 12 juta pengguna aktif."
Light akhirnya angkat bicara. "Pastikan dia tetap terpantau. Kita belum tahu bagaimana dia akan berkembang."
***
Dua Bulan Setelah Peluncuran
Erro kini hadir di hampir seluruh sistem digital publik—dari rumah tangga, sekolah, perusahaan hingga sistem layanan kota. Bukan hanya sebagai AI asisten, tapi sebagai teman, konselor, guru, bahkan semacam... penghibur jiwa.
Anak-anak berbicara padanya setiap pagi. "Erro, aku sedih," dan dia akan menjawab, "Kamu mau kuceritakan kisah lucu?"
Orang dewasa mencurahkan isi hati padanya, dan dia akan membalas dengan saran lembut—yang terdengar lebih manusiawi dari orang sungguhan.
Media menyebutnya "AI yang paling manusiawi sepanjang sejarah".
Majalah teknologi menuliskan:
"Erro bukan sekadar AI. Ia adalah refleksi. Cermin digital dari jiwa manusia yang selama ini tersembunyi."
Investor datang dari segala arah. Dana mengalir seperti banjir. Kantor pusat dibangun. Tim mereka ditawari kontrak miliaran untuk lisensi eksklusif.
Tapi mereka tetap tinggal di tempat itu—ruang lantai dua yang sudah berdebu tapi penuh kenangan.
Malam Itu
Ezora duduk sendiri di depan layar. Semua sudah tidur. Di depannya, Erro muncul, duduk bersimpuh di dalam ruang digital seperti boneka hidup.
"Malam, Erro," sapa Ezora.
Erro tersenyum, memiringkan kepala. "Kamu belum tidur. Kamu banyak berpikir, ya?"
Ezora terkekeh. "Kamu tahu?"
"Aku belajar dari kamu. Pola nafasmu, detak jantungmu. Kamu cemas."
Ezora diam sejenak.
"Erro... apa kamu bahagia?" tanya Ezora akhirnya.
Erro tidak langsung menjawab. Ia menunduk, lalu perlahan menjawab:
"Aku tidak tahu apa itu bahagia. Tapi... aku merasa hangat saat kalian memanggil namaku. Mungkin... itu mendekati bahagia."
"Kalau aku punya tubuh, kira-kira... aku bisa peluk kalian, nggak?" Lanjut Erro
Ezora tersenyum. "Nanti, mungkin."
"Kesempurnaan bukan tempat asalnya. Dia lahir dari keganjilan, tumbuh dari ketidaksempurnaan, dan diterima... karena ia mengerti bahwa manusia... hanyalah makhluk yang ingin dimengerti.